Hesti.id – 29 Juni 2026 | Jakarta — Permainan Tradisional Indonesia Antara Nostalgia dan Ancaman Kepunahan menjadi tema penting di tengah dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak saat ini lebih akrab dengan layar ponsel dan permainan daring, menjadikan permainan tradisional seperti Engklek, Congklak, Gobak Sodor, dan Bentengan semakin jarang ditemukan. Meskipun sederhana, permainan ini menyimpan nilai-nilai kebersamaan, komunikasi, dan budaya yang merupakan identitas masyarakat Indonesia.
Dari Permainan Sehari-hari Menjadi Pemandangan Langka
Permainan tradisional telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum era gawai dan internet, anak-anak menghabiskan waktu luang mereka di luar rumah, berinteraksi dan bermain bersama teman sebaya. Namun, dengan perkembangan teknologi digital, banyak anak kini lebih memilih bermain game online, yang dianggap lebih menarik dan praktis. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi cara bermain, tetapi juga pola interaksi sosial yang semakin menurun.
Baca juga:
Lapangan Banteng dan Ruang Nostalgia Permainan Tradisional
Di tengah kekhawatiran akan hilangnya permainan tradisional, beberapa ruang publik, seperti Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, mulai menghidupkan kembali permainan rakyat. Kegiatan yang diadakan oleh komunitas setempat memungkinkan anak-anak hingga orang dewasa untuk berinteraksi dan bermain bersama, menciptakan suasana yang hangat di tengah kesibukan modern. Bagi orang dewasa, ini adalah momen nostalgia, sementara bagi generasi muda, permainan tradisional menawarkan pengalaman baru yang tidak bergantung pada teknologi.
Lebih dari Sekadar Permainan Tradisional
Permainan tradisional membawa pelajaran berharga bagi anak-anak. Misalnya, Engklek dapat melatih keseimbangan dan kemampuan mengambil keputusan, sedangkan Congklak mengajarkan strategi dan kesabaran. Setiap jenis permainan mengandung nilai-nilai penting, seperti kerja sama tim dalam Gobak Sodor dan solidaritas dalam Bentengan. Selain itu, kegiatan ini juga membantu membangun karakter dan keterampilan sosial anak.
Pelestarian Dimulai dari Lingkungan Pendidikan
Pelestarian permainan tradisional harus melibatkan berbagai pihak, terutama di lingkungan pendidikan. Sekolah-sekolah, seperti TK Al Azhar 1, mulai mengenalkan permainan tradisional dalam aktivitas belajar mereka. Dengan mengenalkan budaya lokal sejak dini, anak-anak diharapkan dapat mempertahankan keberadaan permainan ini di masa depan, didukung oleh peran keluarga yang juga dapat mengenalkan permainan tradisional di rumah.
Menjaga Warisan Budaya di Era Digital
Kemajuan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi pelestarian budaya. Sebaliknya, media digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi muda melalui video edukasi, konten kreatif, dan kampanye budaya. Penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional berkontribusi pada pembentukan karakter dan keterampilan sosial, sehingga perlu dijaga agar tidak punah di tengah arus globalisasi.
Dari Nostalgia Menuju Aksi Nyata
Permainan tradisional bukan sekadar kenangan, tetapi juga warisan budaya yang relevan untuk kehidupan saat ini. Dengan nilai-nilai kebersamaan dan komunikasi yang terkandung di dalamnya, permainan ini tetap penting dalam masyarakat modern. Upaya pelestarian melalui kegiatan publik dan pendidikan menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki peluang untuk bertahan. Dibutuhkan komitmen dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk terus memperkenalkan dan melestarikannya, agar permainan tradisional tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga tetap hidup dalam identitas budaya Indonesia untuk generasi mendatang.











