Hesti.id – 28 Juni 2026 | Semarang, Indonesia – Seni melilit kain tradisional kembali dihidupkan melalui inisiatif bernama Lilit Pop Menghidupkan Kembali Seni Melilit Kain Tradisional Melalui Kampanye Budaya yang Dekat dengan Generasi Muda. Kampanye ini digagas oleh sekelompok mahasiswa Universitas Semarang (USM) sebagai jawaban atas tantangan yang dihadapi kain tradisional di tengah pesatnya perkembangan industri fesyen dan globalisasi.
Penggunaan kain tradisional, yang kaya akan nilai identitas dan filosofi, kini semakin jarang terlihat, terutama di kalangan generasi muda yang lebih memilih tren modern. Menyadari kondisi ini, Lilit Pop hadir dengan tagline menarik, ‘Lilit Kain, Tetap Main!’, yang mengajak masyarakat untuk melihat kain tradisional dari perspektif yang lebih modern dan relevan.
Kampanye ini tidak hanya menekankan pelestarian budaya, tetapi juga mengemasnya dalam bentuk yang kreatif dan interaktif. Dalam dua kegiatan utama yang diadakan di ruang publik dan lingkungan kampus, Lilit Pop menawarkan pengalaman budaya yang edukatif sekaligus menyenangkan. Masyarakat diajak untuk mencoba langsung seni melilit kain, berdialog dengan praktisi fesyen, dan menikmati aktivitas budaya yang melibatkan kolaborasi dengan berbagai mitra.
Baca juga:
Konsep Lilit Pop berfokus pada pentingnya mengubah cara pandang generasi muda terhadap kain tradisional. Nama ‘Lilit Pop’ itu sendiri merupakan kombinasi dari kata ‘lilit’ yang berarti teknik melilit kain dan ‘pop’ yang mengacu pada budaya populer. Dengan pendekatan ini, Lilit Pop ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Kegiatan perdana diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026, di Car Free Day Simpang Lima Semarang. Menggandeng Gunawan, seorang fashion stylist dan content creator, acara ini berhasil menarik perhatian banyak pengunjung. Sejak pagi, booth Lilit Pop sudah dipadati masyarakat yang penasaran dengan demonstrasi melilit kain. Pengunjung diajak untuk melihat bagaimana selembar kain tradisional dapat diubah menjadi berbagai model modern yang elegan dan praktis.
Gunawan membagikan tips styling yang sederhana namun tetap estetis, menjadikan pengunjung merasa nyaman untuk bertanya dan berdiskusi. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari panjangnya antrean peserta yang ingin mencoba melilit kain sendiri. Tidak hanya remaja, orang tua dan keluarga pun ikut berpartisipasi, menunjukkan minat yang tinggi terhadap budaya yang dikemas dengan cara menarik.
Selanjutnya, pada 21 Juni 2026, Lilit Pop melanjutkan rangkaian kegiatan dalam Dies Natalis ke-39 Universitas Semarang di GOR USM dengan konsep ‘Satu Booth, Tiga Pengalaman Budaya’. Kolaborasi ini memperkenalkan pengunjung pada seni melilit kain, destinasi dan kekayaan budaya lokal, serta face painting dengan motif budaya Nusantara. Interaksi yang aktif antara pengunjung dan penyelenggara menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan, dengan banyak yang mengabadikan momen tersebut di media sosial.
Kedua rangkaian kegiatan ini membuktikan bahwa masyarakat masih sangat menghargai budaya, terutama bila disampaikan dengan cara yang menarik. Pengunjung tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi terlibat aktif dalam setiap aktivitas, menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan inovasi dan kolaborasi yang positif.
Lilit Pop Menghidupkan Kembali Seni Melilit Kain Tradisional Melalui Kampanye Budaya yang Dekat dengan Generasi Muda menghadirkan harapan baru bagi keberlangsungan kain tradisional di Indonesia. Melalui pendekatan yang kreatif, kampanye ini berhasil menarik minat generasi muda dan membuktikan bahwa budaya dapat tetap relevan di era modern.
Dengan semangat ‘Lilit Kain, Tetap Main!’, Lilit Pop mengajak masyarakat untuk tidak ragu mengenakan kain tradisional dalam berbagai kesempatan. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi semua untuk mencintai, menggunakan, dan melestarikan warisan budaya Indonesia, agar tetap hidup dan berkontribusi dalam perkembangan zaman.











