27/06/2026

Penguatan Edukasi HIV dan Hepatitis B di Sekolah oleh Poltekkes Kemenkes Jakarta I

Penguatan Edukasi HIV dan Hepatitis B di Sekolah oleh Poltekkes Kemenkes Jakarta I
Penguatan Edukasi HIV dan Hepatitis B di Sekolah oleh Poltekkes Kemenkes Jakarta I

Hesti.id – 27 Juni 2026 | Poltekkes Kemenkes Jakarta I petakan kebutuhan guru untuk perkuat edukasi HIV dan Hepatitis B di sekolah melalui lokakarya partisipatif yang melibatkan 30 guru dari SMK Al-Hidayah I Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan peta kebutuhan guru dalam memberikan edukasi yang efektif kepada remaja mengenai isu kesehatan yang penting ini.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Husnul Khatimah, SST, MKM, menyebutkan bahwa guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mengajarkan tentang HIV dan Hepatitis B, namun pengetahuan mereka masih perlu diperkuat. “Guru memegang peran strategis sebagai ujung tombak pendidikan yang dapat mempengaruhi perilaku siswa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membentuk gaya hidup sehat,” ungkapnya.

Melalui Focus Group Discussion (FGD) semi-terstruktur, tim menemukan bahwa pengetahuan guru mengenai Hepatitis B bersifat parsial dan tidak merata. Banyak guru masih memiliki miskonsepsi bahwa Hepatitis B identik dengan penyakit kuning dan percaya bahwa penularan dapat terjadi melalui makanan dan minuman. Dr. Hariyanti, SKM, MKM, menegaskan bahwa miskonsepsi ini harus segera dikoreksi melalui program edukasi berbasis bukti.

Meski ada tantangan dalam hal pengetahuan, para guru menunjukkan sikap positif terhadap edukasi yang lebih terbuka di sekolah. Sebagian besar dari mereka sepakat bahwa topik ini tidak lagi tabu dan harus disampaikan dengan jelas kepada siswa. Salah satu peserta FGD menyatakan, “Harus diedukasi secara mendetail, tidak bisa secara umum. Sudah bukan hal tabu, karena generasi sekarang harus disampaikan detail dan jelas sumbernya.”

Lokakarya ini juga berhasil mengidentifikasi sejumlah hambatan yang dihadapi guru dalam menyampaikan materi edukasi. Hambatan terbesar berasal dari keterbatasan pengetahuan mengenai Hepatitis B. Selain itu, guru lebih memilih video pendek sebagai media edukasi karena dianggap relevan untuk generasi digital saat ini. Media lain seperti standing banner juga diusulkan sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran di lingkungan sekolah.

Dalam penjelasannya, seorang guru menambahkan, “Jangan hanya materi penyakit saja, tetapi dampak juga perlu ditekankan agar siswa memahami risiko ke depannya. Masa penularan juga perlu dijelaskan, karena baru ketahuan beberapa tahun kemudian, jadi orang akan merasa aman padahal sudah terinfeksi.”

Sebagai langkah selanjutnya, tim pengabdi dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta I berencana untuk mengembangkan media edukasi dalam bentuk video pendek dan standing banner, berdasarkan hasil dari lokakarya tersebut. Selain itu, mereka juga akan merancang modul edukasi untuk guru, dengan tujuan mendorong integrasi topik HIV dan Hepatitis B ke dalam kurikulum sekolah secara lebih sistematis.

Data dari WHO menunjukkan bahwa terdapat sekitar 40,8 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia, sementara 240 juta orang terinfeksi Hepatitis B kronis. Di Indonesia, data Kemenkes mencatat hingga Juni 2025, terdapat 4976 anak berusia 13-18 tahun yang terdiagnosis HIV, menjadikannya sebagai kebutuhan mendesak untuk melakukan edukasi dini di sekolah. Dengan demikian, upaya Poltekkes Kemenkes Jakarta I dalam memetakan kebutuhan guru untuk memperkuat edukasi HIV dan Hepatitis B di sekolah sangatlah penting dan relevan.

Related Post

Tinggalkan komentar