Hesti.id – 27 Juni 2026 | Generasi Z, yang saat ini menjadi kelompok penduduk terbesar di Indonesia dengan lebih dari 64 juta jiwa, menghadapi tantangan berat yang sering kali disalahartikan. Banyak yang beranggapan bahwa Gen Z cemas bukan karena lembek tapi karena sistem yang rusak. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam, kecemasan mereka bukan tanpa alasan. Di balik layar media sosial, anak muda ini hidup dalam ketidakpastian masa depan yang nyata, di mana standar pencapaian yang ditetapkan oleh sistem kapitalisme dan sekularisme sering kali sulit untuk dicapai.
Hampir setiap survei menunjukkan bahwa generasi ini rentan terhadap masalah kesehatan mental. Tekanan akademik, tuntutan ekonomi, dan ketidakpastian karier menjadi penyebab utama. Ketika mereka merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial, banyak dari mereka yang mengalami kehilangan arah dan merasa tidak berharga. Ironisnya, di tengah kecemasan ini, negara sering kali tidak hadir untuk memberikan dukungan. Sebaliknya, generasi tua sering kali mencap mereka sebagai “Generasi Stroberi” yang dianggap lemah.
Namun, di tengah tekanan yang luar biasa ini, Generasi Z tidak sepenuhnya terpuruk. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, muncul gelombang resistensi di kalangan anak muda. Mereka tidak lagi mudah terbuai oleh narasi pertumbuhan ekonomi atau modernisasi yang tidak relevan dengan realitas yang mereka hadapi. Kecemasan ini bertransformasi menjadi sikap skeptis yang sehat, di mana mereka mulai mempertanyakan, “Mengapa dunia jadi sekejam ini?” Ketidakpuasan terhadap kondisi saat ini justru mendorong mereka untuk mencari solusi, mengubah potensi diri dari sekadar korban menjadi agen perubahan.
Baca juga:
Ketika anak muda mulai skeptis terhadap janji-janji sistem yang ada, banyak yang menemukan jawaban dalam ajaran Islam. Islam bukan hanya sekadar agama ritual; ia menawarkan pandangan hidup yang komprehensif. Ajaran ini memberikan ketenangan dan arah yang jelas dalam hidup, meliputi aspek spiritual, sosial, ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam telah melahirkan generasi unggul yang memiliki akidah kuat dan berkontribusi dalam berbagai bidang.
Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai pengurus dan pelayan rakyat yang bertanggung jawab dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat dengan adil. Kehadiran negara yang menjalankan amanah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan generasi yang sehat, berilmu, dan berdaya. Oleh karena itu, penting bagi pemuda untuk menyadari bahwa tugas mereka tidak hanya untuk bertahan hidup dalam sistem yang rusak, melainkan juga untuk memperbaiki peradaban.
Dengan menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi umat dan masyarakat, Generasi Z dapat mengubah kecemasan mereka menjadi energi kebangkitan. Masa depan yang lebih baik bukan lagi sekadar angan-angan, tetapi tujuan yang diperjuangkan secara sadar dan terarah. Tantangan yang dihadapi oleh Gen Z cemas bukan karena lembek tapi karena sistem yang rusak ini, harus menjadi panggilan untuk bertindak, menciptakan perubahan yang positif serta memperjuangkan keadilan bagi semua.











