Hesti.id – 27 Juni 2026 | Pidato Presiden Prabowo Subianto di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang berlangsung di Gorontalo pada Rabu (24/6/2026) memicu gelombang reaksi dari masyarakat. Guyon Prabowo usai bilang endasmu di depan petani: Nanti gue dihajar lagi, emang gue pikirin! [titlebase] menjadi sorotan utama terutama di media sosial. Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan gaya bicara ceplas-ceplos yang dinilai terlalu santai untuk seorang kepala negara.
Dalam sambutannya, Prabowo mengungkapkan bahwa rakyat, khususnya petani dan nelayan, lebih menyukai pemimpin yang berbicara dengan jujur dan apa adanya, ketimbang yang bersikap sopan namun tidak transparan. Pernyataan tersebut diiringi dengan kata-kata yang dianggap kurang pantas, seperti “Endasmu.. eh eh sorry sorry” yang kemudian diikuti dengan “Emang gue pikirin”. Ucapan ini membuat banyak netizen merasa tersinggung dan kehilangan harapan terhadap kepemimpinan Prabowo.
Reaksi publik pun beragam. Salah satu pengguna media sosial dengan akun @afrk**** mengekspresikan kekecewaannya, menyebut bahwa ucapan Prabowo tersebut menunjukkan bahwa dia tidak peduli pada kritik yang diberikan oleh masyarakat. “Anjirlah ga ada harapan lagi klo gini mah,” tulisnya. Banyak netizen lainnya juga menilai bahwa ucapan Prabowo tidak pantas keluar dari mulut seorang presiden.
Baca juga:
Di tengah suasana yang kontroversial, Prabowo tampak santai dan tidak terlalu mempersoalkan reaksi negatif yang muncul. Ia bahkan berkelakar bahwa wartawan seharusnya menghapus pernyataan tersebut agar ia tidak dihujani kritik lebih lanjut. “Coba di-delete, delete. Heh, friend ya? Wartawan kita kompak ya. Coba yang gitu-gitu, nanti gue dihajar lagi itu. Emang gue pikirin,” ungkapnya sambil tertawa, yang disambut tepuk tangan dari hadirin.
Prabowo menambahkan bahwa gaya bicaranya yang ceplas-ceplos adalah cara untuk menarik perhatian rakyat, terutama dalam situasi yang membutuhkan keterbukaan dan kejujuran. Ia meyakini bahwa pendekatan seperti ini lebih baik daripada berbicara dengan nada yang terlalu lembut hingga tidak didengar oleh masyarakat.
Walaupun banyak pihak yang mendukung gaya bicara Prabowo, sejumlah kritikus mengaitkan sikapnya yang santai dengan masa lalunya yang penuh kontroversi, termasuk dugaan pelanggaran HAM. Seorang pengguna dengan akun @angga*** mengekspresikan pendapatnya, “Ya apa yang mau diharapin dari kriminal HAM sih kak. Ngilu gin orang aja bisa apalagi cuma bilang kata-kata ga sopan gitu.”
Situasi ini mencerminkan dilema yang dihadapi oleh Prabowo sebagai presiden, di mana ia berusaha untuk menjadi dekat dengan rakyat, namun pada saat yang sama, tetap harus menjaga citra dan wibawa sebagai seorang pemimpin. Dalam konteks ini, ucapan Guyon Prabowo usai bilang endasmu di depan petani: Nanti gue dihajar lagi, emang gue pikirin! [titlebase] menjadi simbol dari tantangan yang dihadapi dalam komunikasi politik di era modern.
Dengan meningkatnya kritik dan ketidakpuasan masyarakat, penting bagi pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat dan beradaptasi dengan harapan yang berkembang. Gaya komunikasi yang dianggap terlalu kasual oleh sebagian orang bisa jadi berdampak negatif terhadap reputasi Prabowo jika tidak diimbangi dengan tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.











