Hesti.id – 28 Juni 2026 | Dari gunungan sampah ke energi bersih TPA Terjun Medan ubah limbah jadi biomassa. Di kota Medan, Sumatra Utara, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun bukan sekadar tempat pembuangan sampah, tetapi menjadi laboratorium inovatif dalam mengolah limbah menjadi sumber energi yang ramah lingkungan. Dalam upaya mengurangi timbunan sampah dan mendukung transisi energi bersih, TPA Terjun mengubah sampah organik menjadi biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk pembangkitan listrik.
Proses ini dimulai dengan pemilahan sampah organik yang masuk ke TPA. Sampah yang terpilih kemudian difermentasi menggunakan larutan bioaktivator yang bertujuan untuk mempercepat proses penguraian. Setelah difermentasi, material dicacah hingga berukuran lebih kecil, dikeringkan, dan dipadatkan menjadi bentuk Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP). Biomassa ini kemudian dikemas dan dikirim ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu di Kabupaten Langkat.
Di PLTU Pangkalan Susu, biomassa digunakan dalam program co-firing, yaitu pencampuran bahan bakar biomassa dengan batu bara dalam proses pembakaran. Langkah ini membantu mengurangi ketergantungan pada batu bara dan memberikan kontribusi positif dalam mengatasi masalah lingkungan. Sejak diterapkan, pemanfaatan biomassa dari TPA Terjun diprediksi dapat menghemat penggunaan batu bara hingga 148.921 ton sepanjang tahun 2024.
Baca juga:
Manfaat dari pengolahan biomassa tidak hanya terbatas pada penghematan bahan bakar fosil, tetapi juga membantu menekan emisi karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik. Dengan demikian, proses ini mengubah sampah dari sekadar masalah lingkungan menjadi solusi energi yang lebih bersih. Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan mencatat bahwa produksi sampah di kota ini mencapai 1.700 ton per hari. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan yang semakin parah.
Inisiatif TPA Terjun sejalan dengan visi pemerintah untuk mengelola 50 persen sampah nasional pada tahun 2025. Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, TPA Terjun menunjukkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya yang berharga. Ini adalah langkah penting dalam menghadapi tantangan pengelolaan limbah yang dihadapi banyak daerah di Indonesia, terutama seiring dengan pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat.
Program biomassa di TPA Terjun juga menjadi proyek percontohan pertama PLN di Sumatra Utara yang memanfaatkan sampah perkotaan untuk kebutuhan co-firing. Meskipun proporsi biomassa masih kecil dibandingkan batu bara, langkah ini menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari pemanfaatan sumber daya lokal. Dalam konteks yang lebih luas, implementasi co-firing biomassa di berbagai PLTU PLN di seluruh Indonesia menghasilkan sekitar 1,67 juta MWh listrik hijau dan mengurangi emisi karbon hingga sekitar 1,87 juta ton CO₂.
Dalam menghadapi tantangan ketahanan energi, penting untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar kita. Pemanfaatan biomassa dari limbah organik tidak hanya berfokus pada ketersediaan listrik saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan energi di masa depan. Ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk meningkatkan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam rangka mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.
Dengan mengubah cara pandang terhadap sampah, kita dapat melihat limbah sebagai potensi sumber energi. Konsep ekonomi sirkular yang didorong oleh pemerintah memberikan harapan baru untuk mengelola limbah secara lebih produktif. Di TPA Terjun, sampah tidak lagi menjadi beban lingkungan tetapi menjadi bagian penting dari ekosistem energi yang berkelanjutan.











