Hesti.id – 17 Juni 2026 | Starbucks, rantai kopi terbesar di dunia, baru-baru ini menghadapi kontroversi di Korea Selatan dan Kanada. Di Korea Selatan, Starbucks menghadapi boikot dan protes karena kampanye pemasaran mereka yang dinamakan ‘Tank Day’ yang diluncurkan pada hari anniversary pembantaian Gwangju, sebuah peristiwa berdarah dalam sejarah Korea Selatan. Kampanye ini dianggap tidak sensitif dan menyinggung perasaan masyarakat Korea Selatan.
Sebagai akibatnya, Starbucks Korea mengumumkan bahwa mereka akan menutup lebih dari 2.000 toko mereka pada tanggal 22 Juni untuk memberikan pelatihan sejarah dan kesadaran sosial kepada karyawannya. Penutupan ini diperkirakan akan menyebabkan kerugian sebesar 2,1 miliar won. Selain itu, CEO Starbucks Korea telah dipecat dan menjadi tersangka dalam kasus ini.
Sementara itu, di Kanada, Starbucks menghadapi tuntutan hukum karena biaya tambahan yang dikenakan kepada pelanggan yang memesan susu nabati. Sebuah pengadilan di Quebec memutuskan bahwa tuntutan tersebut dapat dilanjutkan setelah Starbucks mengakui bahwa biaya tambahan sebesar $0,80 untuk susu nabati hanya sebesar $0,12. Hal ini dianggap tidak proporsional dan dapat menyebabkan kerugian bagi konsumen.
Baca juga:
Starbucks juga menghadapi masalah lainnya, yaitu masalah daur ulang gelas kopi. Seorang petugas kebersihan di Inggris telah memberikan saran kepada masyarakat tentang cara mendaur ulang gelas kopi dengan benar. Menurutnya, gelas kopi tidak dapat didaur ulang melalui sistem daur ulang rumah tangga biasa karena terbuat dari campuran bahan. Sebagai gantinya, gelas kopi dapat dibawa kembali ke toko tempat pembelian dan didaur ulang melalui fasilitas khusus.
Kontroversi-kontroversi ini menunjukkan bahwa Starbucks perlu meningkatkan kesadaran dan kepekaan terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Perusahaan perlu memastikan bahwa kampanye pemasaran mereka tidak menyinggung perasaan masyarakat dan bahwa mereka memperlakukan konsumen dengan adil.
Starbucks perlu belajar dari kesalahan-kesalahan ini dan meningkatkan komitmennya terhadap keberlanjutan dan kesadaran sosial. Dengan demikian, perusahaan dapat mempertahankan reputasi dan kepercayaan konsumen.











