Hesti.id – 18 Juni 2026 | Pemerintah saat ini tengah menyusun dan mengkaji ulang anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pelaksanaan tahun 2027. Dengan pagu indikatif yang dirancang mencapai Rp 270,2 triliun, langkah evaluasi komprehensif dan Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas menjadi sorotan krusial agar program strategis ini tidak berubah menjadi ajang pemborosan negara.
Sebagai bagian dari upaya penajaman sasaran ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan kembali menggelar pertemuan dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, pada pekan ini. Meski Menkeu menyebut pertemuan ini adalah koordinasi rutin antarlembaga, Purbaya sebelumnya sempat mengonfirmasi adanya penghematan anggaran secara taktis oleh BGN.
Inisiatif rasionalisasi yang dilakukan internal BGN untuk menyesuaikan kondisi lapangan tersebut tercatat telah menekan anggaran hingga Rp 40 triliun berdasarkan laporan bulan Maret 2026. Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas menjadi pertanyaan yang banyak ditanyakan, terutama dalam konteks pemangkasan dan perombakan dalam efisiensi Program MBG ke depannya.
Baca juga:
Lantas, sektor apa saja yang menjadi fokus pemangkasan dan perombakan dalam Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas? Pertama, pemangkasan 8 juta penerima manfaat. Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menyatakan bahwa pemerintah mengkaji pengurangan sekitar 8 juta dari total 81,5 juta orang target penerima manfaat MBG di tahun 2027.
Kedua, pencoretan siswa SMA, anggaran difokuskan untuk eliminasi stunting. Golongan yang menjadi prioritas utama untuk dikeluarkan dari daftar penerima MBG adalah kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Wakil Kepala BGN mencontohkan secara teknis bahwa siswa SMA berstatus menengah ke atas (high class)—khususnya yang memiliki rentang uang saku Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari—sebaiknya tidak lagi disubsidi MBG.
Ketiga, penghapusan insentif ‘pukul rata’ dapur MBG. Perombakan efisiensi juga menyasar sektor hulu program, yakni dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). BGN memastikan akan menghapus skema insentif operasional yang sebelumnya diseragamkan (flat) sebesar Rp 6 juta per hari untuk masing-masing dapur pengelola.
Keempat, audit nasional dapur dan pembersihan konflik kepentingan. Untuk menjamin eksekusi Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas di lapangan, pihak BGN memanfaatkan momentum libur panjang anak sekolah mendatang untuk menghentikan seluruh operasional dapur MBG sementara waktu.
Dalam konteks Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas, serangkaian evaluasi mulai dari perampingan jumlah penerima manfaat, perombakan struktur insentif, hingga audit kepatuhan dapur penyedia merupakan wujud nyata penajaman kualitas eksekusi MBG. Kendati rancangan ini diklaim bisa mendongkrak efisiensi secara luar biasa, Agustina Arumsari menegaskan bahwa penghitungan spesifik penerima manfaat maupun rincian pengesahan besaran pagu masih bersifat indikatif dan terus dieksplorasi bersama pihak Kementerian Keuangan serta Bappenas sebelum finalisasi rancangan 2027 diteken.
Untuk meningkatkan kualitas program, Efisiensi MBG Apa Saja yang Bakal Dipangkas harus dilakukan dengan hati-hati dan terencana. Dengan demikian, program MBG dapat lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuannya, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian makanan bergizi.










