Hesti.id – 12 Juli 2026 | Seruan protes ke Amerika bergema saat peti jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad [titlebase] menyulut gelombang demonstrasi massal di kota suci tersebut, menandai babak baru ketegangan Iran‑AS. Ribuan pelayat berpakaian hitam mengelilingi truk yang mengangkut jenazah sang pemimpin tertinggi, sambil melontarkan teriakan anti‑Amerika yang menggema di setiap sudut lapangan Imam Reza.
Prosesi pemakaman dimulai pada sore hari 9 Juli 2026, setelah serangkaian upacara berkabung selama seminggu di Tehran, Qom, serta tiga kota suci di Irak—Najaf, Karbala, dan Qom. Peti jenazah Khamenei, yang sebelumnya dibawa dengan pengawalan jet tempur, dipindahkan dengan truk ke Mashhad, tempat kelahirannya, dan langsung disambut oleh lautan manusia yang menyalakan bendera merah dan Iran. Di antara mereka, slogan “Matilah Amerika” terdengar berulang kali, menegaskan bahwa kemarahan publik masih belum reda meski telah ada perjanjian MoU antara Washington dan Teheran beberapa minggu sebelumnya.
Seruan protes ke Amerika tidak hanya terdengar di antara warga sipil; pejabat tinggi juga ikut menyuarakan kebencian tersebut. Ketua Parlemen Mohammad‑Bagher Ghalibaf, yang sekaligus memimpin negosiasi dengan AS, berdiri di samping kepala kehakiman Gholamhossein Mohseni‑Eshkevari, sambil menegaskan bahwa tidak ada kompromi dengan “para pembunuh”. Putra tertua Khamenei, Mostafa, yang tewas dalam serangan Februari, turut dimakamkan bersama ayahnya, istri, serta cucu‑cucu perempuan yang masih berusia beberapa bulan.
Baca juga:
Suasana menjadi semakin tegang ketika pada malam 8 Juli, Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar‑besar ke wilayah Iran, menargetkan instalasi strategis di sekitar jalur kereta api Tehran‑Mashhad dan sebuah pembangkit listrik nuklir. Iran menanggapi dengan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar, serta menutup Selat Hormuz. Sirene peringatan pun terdengar di Yordania setelah militer negara tersebut mengklaim berhasil mencegat delapan rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Dalam konteks ini, Seruan protes ke Amerika bergema saat peti jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad [titlebase] menjadi simbolik. Demonstran tak hanya menuntut balas dendam, melainkan juga menegaskan solidaritas nasional terhadap pemimpin yang baru saja gugur. Mereka mengibarkan spanduk bertuliskan “Hey Trump, we will kill you” dalam bahasa Inggris, serta menempelkan foto Khamenei di antara kerumunan.
Mojtaba Khamenei, putra dan penerus de facto sang pemimpin, tidak muncul dalam prosesi. Pihak keamanan menyatakan bahwa ia dilarang hadir demi menghindari risiko serangan lebih lanjut. Keputusan ini menambah misteri mengenai peran politiknya di tengah krisis yang semakin memuncak.
Media pemerintah Iran, termasuk IRIB dan Mehr News, menyiarkan gambar prosesi secara live, menekankan bahwa pemakaman ini adalah bentuk penghormatan terakhir sekaligus pernyataan politik. Sementara itu, laporan internasional seperti Reuters dan AFP mencatat bahwa ribuan orang menunggu di Mashhad, menunggu peti jenazah turun ke liang lahat di kompleks Imam Reza.
Secara keseluruhan, pemakaman Khamenei tidak hanya menjadi ritual keagamaan, melainkan arena pertarungan naratif antara Iran dan Amerika. Seruan protes ke Amerika yang terus bergema menegaskan bahwa konflik yang baru saja dimulai akan terus mempengaruhi dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.











