Hesti.id – 29 Juni 2026 | Di tengah kesibukan belajar dan ujian, Kala Fathina Murid MAN 1 Yogyakarta Menulis Mimpinya Menjadi Dokter dengan tekad yang luar biasa. Fathina Abida Salma, siswi kelas XII E di MAN 1 Yogyakarta, baru-baru ini berhasil diterima di Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Jenderal Soedirman melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Kisah perjalanan Fathina tidaklah muncul secara tiba-tiba. Minatnya terhadap dunia kedokteran berawal dari cerita-cerita inspiratif yang sering didengarnya dari sang ayah, Widodo Wirawan, seorang dokter. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan yang diperolehnya di sekolah, rasa ingin tahunya terhadap aspek medis semakin mendalam. Fathina menyadari bahwa kedokteran adalah lebih dari sekadar profesi; itu adalah panggilan hatinya.
Dalam memilih perguruan tinggi, Fathina menunjukkan ketelitian dan kedewasaan dalam pengambilan keputusan. Ia tidak hanya mempertimbangkan reputasi kampus, tetapi juga lingkungan belajar yang dapat mendukung perkembangan dirinya. Universitas Jenderal Soedirman menjadi pilihan ideal karena menawarkan suasana akademik yang tenang dan kondusif di Purwokerto, yang dianggapnya penting untuk fokus belajar di bidang kedokteran.
Baca juga:
Fathina memiliki metode belajar yang unik dan efektif. Setelah mengikuti pelajaran dan bimbingan, ia tidak langsung membuka catatan kembali. Sebaliknya, ia lebih suka menuliskan ulang konsep-konsep yang telah dipelajarinya. “Ini membantu saya memahami mana yang sudah saya kuasai dan mana yang perlu diperbaiki,” ungkap Fathina. Setelah itu, ia melengkapi pemahamannya dengan membaca ulang, berdiskusi dengan pengajar, dan mengerjakan soal latihan.
Belajar baginya bukan hanya sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membangun pemahaman yang mendalam melalui refleksi. Kebiasaan ini telah membentuk ketahanan akademiknya dalam menghadapi tantangan masuk perguruan tinggi.
Di luar dunia akademik, Fathina juga menemukan keseimbangan melalui hobi membaca, menulis jurnal, dan menggambar. Kegiatan ini memberinya ruang untuk menyalurkan minat dan merawat kesehatan mentalnya. “Melalui journaling, saya dapat merekam perjalanan hidup dan mengelola emosi, serta menetapkan tujuan yang ingin dicapai,” jelasnya.
Keberhasilan Fathina dalam masuk Fakultas Kedokteran tidak membuatnya berpuas diri. Ia memandang masa perkuliahan sebagai kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri dan mengembangkan potensi. Salah satu impian terbesarnya adalah mengikuti program pertukaran mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional yang berharga.
Fathina juga sangat peduli terhadap isu kesehatan mental yang semakin penting di era modern ini. Ia bercita-cita untuk berkontribusi dalam bidang ini dan berharap dapat mendalami spesialisasi kejiwaan di masa depan.
Perjalanan Fathina menuju mimpinya tidak selalu mulus. Ia menghadapi berbagai tantangan seperti keraguan dan kelelahan. Namun, ia meyakini bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk terus melangkah meski dalam ketakutan. Pesan ini ia sampaikan kepada adik-adik kelas yang sedang berjuang meraih cita-cita, “Apa pun ketakutan kalian, tetaplah berjalan. Meskipun pelan, selama kalian terus melangkah, kalian pasti akan sampai ke tujuan.”
Pesan tersebut mencerminkan filosofi hidup yang dipegang Fathina, di mana ia mengutip Antonio Machado, “Jalan dibentuk dengan berjalan.” Dengan langkah kecil yang konsisten, Fathina telah menunjukkan bahwa impian untuk menjadi dokter adalah sesuatu yang dapat dicapai melalui usaha dan tekad yang kuat.











