23/06/2026

Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini

Penulis

Igone Shayleigh Igone

Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini
Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini

Hesti.id – 23 Juni 2026 | Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini merupakan salah satu upaya untuk menanamkan nilai toleransi beragama sejak usia dini. Sebagai negara yang memiliki keberagaman agama dan kepercayaan, Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.

Untuk mencapai hal ini, lima mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Bahasa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema "Berbeda-beda, Tetap Berteman" di TK Mutiara Islam, Jalan Masjid Nurul Haq, Kampung Bambon, Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini dipelopori oleh Adam Fakhrian selaku ketua kelompok bersama Surya Alif Aldilah, Rafif Alfi Syahri, Muhammad Iqbal Hawari, dan Havilaa Zaky Pandika. Mereka mendapatkan sambutan positif dari pihak sekolah dan diikuti oleh para siswa TK Mutiara Islam dengan didampingi Kepala Sekolah, Ibu Marmah, S.Pd.I., serta para guru.

Program ini dilaksanakan karena pentingnya mengenalkan pemahaman tentang toleransi beragama kepada anak-anak sejak dini. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menanamkan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang untuk berteman, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dihormati dan dihargai.

Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak dengan pendekatan yang sederhana dan menyenangkan. Kegiatan diawali dengan doa bersama dan sesi perkenalan antara mahasiswa dan para murid.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai pengertian toleransi beragama, pentingnya menghormati perbedaan keyakinan, serta contoh-contoh sederhana penerapan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperkuat pemahaman peserta, mahasiswa juga mengajak para murid menonton film edukatif yang mengangkat pesan tentang persahabatan, kebersamaan, dan sikap saling menghormati di tengah perbedaan.

Setelah sesi pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan permainan edukatif berupa tanya jawab interaktif. Melalui kegiatan tersebut, para murid diajak mengingat kembali materi yang telah disampaikan sekaligus melatih keberanian mereka untuk berpendapat.

Antusiasme peserta terlihat dari cukup banyaknya siswa yang aktif menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman sederhana mengenai sikap saling menghormati sesama teman. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan semangat belajar yang ditunjukkan selama kegiatan berlangsung, para siswa diberikan susu oleh mahasiswa.

Pemberian tersebut diharapkan dapat menambah kebahagiaan peserta sekaligus menjadi pelengkap dari pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Ketua kelompok PkM, Adam Fakhrian, mengatakan bahwa pendidikan mengenai toleransi beragama perlu ditanamkan sejak usia dini karena masa kanak-kanak merupakan tahap penting dalam pembentukan karakter.

"Toleransi beragama bukan berarti mencampurkan keyakinan, tetapi menghormati hak setiap orang untuk menjalankan ajaran agamanya. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan kepada anak-anak bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang harus disikapi dengan sikap saling menghargai dan menghormati. Kami berharap nilai-nilai tersebut dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat," ujar Adam.

Dengan demikian, kegiatan Belajar Menghargai Perbedaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kenalkan Toleransi Beragama kepada Anak Usia Dini ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam membentuk generasi yang lebih toleran dan menghargai perbedaan. Dengan begitu, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi kegiatan serupa di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar