Hesti.id – 09 Juli 2026 | Penggunaan AI tembus 45 miliar sesi per bulan, cara konsumen cari informasi mulai berubah. Tren ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan telah merubah cara tradisional dalam mencari informasi. Alih-alih mengunjungi berbagai situs web, kini konsumen lebih memilih untuk berinteraksi langsung dengan sistem AI yang dapat memberikan jawaban secara instan.
Riset terbaru dari Graphite mengungkapkan bahwa saat ini, penggunaan AI secara global mencapai sekitar 56 persen dari total aktivitas pencarian di dunia. Dari angka tersebut, 28 persen di antaranya berkaitan langsung dengan pencarian informasi, sementara ChatGPT sendiri menyumbang sekitar 20 persen dari aktivitas pencarian berbasis pertanyaan secara global.
Perubahan ini juga berdampak pada perilaku pengguna internet. Dulu, pengguna sering membuka banyak halaman untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber. Namun, kini mereka lebih mengandalkan jawaban yang disajikan langsung oleh sistem AI. Ini adalah sebuah perubahan mendasar dalam cara brand membangun visibilitas digital mereka.
Baca juga:
Brand kini tidak hanya bersaing untuk mendapatkan klik dari mesin pencari. Visibilitas mereka ditentukan oleh seberapa baik mereka dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI saat memberikan jawaban kepada pengguna. Alexandro Wibowo, Partner dari Avonetiq, menyatakan bahwa fenomena ini menandai perubahan penting dalam lanskap digital. “Ketika AI menjadi titik awal dalam pencarian, brand harus memastikan informasi mengenai bisnisnya jelas, konsisten, dan kredibel,” ujarnya.
Sistem AI yang digunakan saat ini memiliki cara kerja yang berbeda dengan mesin pencari tradisional. Alih-alih menampilkan daftar tautan, sistem ini mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengevaluasi relevansinya, dan menyusun jawaban yang dianggap paling membantu bagi pengguna. Dalam proses ini, kualitas dan konsistensi jejak digital menjadi semakin penting.
Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mulai meninjau kembali strategi visibilitas digital mereka. Tidak cukup hanya memiliki website atau menghasilkan konten dalam jumlah besar; mereka juga perlu memastikan informasi mengenai brand tersedia secara konsisten di berbagai kanal dan divalidasi oleh sumber terpercaya.
Dalam menjawab kebutuhan ini, Avonetiq mengembangkan AVO AI, sebuah platform yang membantu perusahaan memahami bagaimana brand mereka dipersepsikan oleh sistem AI. Platform ini juga dapat mengidentifikasi kesenjangan informasi dan menemukan peluang untuk meningkatkan visibilitas dan otoritas digital mereka.
Melalui analisis berbasis AI, AVO AI membantu perusahaan memantau representasi brand mereka dalam berbagai sistem AI, mengidentifikasi kesenjangan informasi, serta memberikan rekomendasi untuk memperkuat otoritas digital agar lebih mudah dikenali dan dipercaya. “Di era AI, kita perlu bertanya apakah brand kita muncul ketika pengguna mencari informasi melalui AI,” tambah Alexandro.
Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam pencarian informasi, perusahaan dituntut untuk memahami perubahan perilaku konsumen yang sedang terjadi. Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana ditemukan di internet, tetapi bagaimana memastikan brand tetap relevan di tengah dominasi AI sebagai sumber informasi utama bagi pengguna.











