9 Juli 2026

Gunung Anak Krakatau Erupsi Enam Kali, Kolom Abu Mengarah ke Utara

Penulis

Hehet Hehet Hehet

Gunung Anak Krakatau Erupsi Enam Kali, Kolom Abu Mengarah ke Utara
Gunung Anak Krakatau Erupsi Enam Kali, Kolom Abu Mengarah ke Utara

Hesti.id – 09 Juli 2026 | Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang signifikan. Hari ini, Rabu (8/7/2026), tercatat enam kali letusan beruntun Anak Krakatau, kolom abu hitam pekat mengarah ke Barat Laut dan Utara. Letusan ini berlangsung sejak dini hari hingga menjelang siang, memicu kolom abu tebal yang terlihat jelas dari jarak jauh.

Sejak pukul 00.11 WIB, letusan pertama terjadi, meskipun visualnya tidak teramati karena kegelapan malam. Namun, getaran yang ditimbulkan cukup kuat dan terdeteksi oleh seismograf. Aktivitas ini dilanjutkan dengan letusan kedua yang terjadi pada pukul 05.50 WIB, dengan ketinggian kolom abu mencapai sekitar 250 meter, berwarna kelabu hingga hitam pekat.

Pukul 07.11 WIB, letusan ketiga kembali menghasilkan kolom abu setinggi 250 meter dengan amplitudo mencapai 44,4 mm. Selanjutnya, dua letusan susulan terjadi pada pukul 08.42 dan 09.35 WIB, masing-masing mencapai ketinggian 100 meter dan 200 meter. Letusan keenam terjadi pada pukul 09.54 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 100 meter.

Dari hasil pemantauan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa kolom abu dominan bergerak ke arah barat laut, mengarah menuju Provinsi Lampung. Meskipun dampak dari erupsi ini bersifat lokal, pihak berwenang tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan penyebaran abu vulkanik yang dapat menurunkan jarak pandang dan memengaruhi aktivitas penerbangan serta pelayaran.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kenaikan muka air laut yang signifikan akibat aktivitas erupsi. Namun, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau diminta untuk mematuhi rekomendasi pemerintah, yaitu tidak mendekati radius 3 kilometer dari kawah aktif. Hal ini penting untuk menghindari risiko dari lontaran material pijar dan gas beracun yang berpotensi membahayakan.

Dr. Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di sekitar kawasan pesisir. Ia mengingatkan untuk selalu memiliki rencana evakuasi mandiri dan mengenali jalur evakuasi menuju tempat yang lebih aman jika terjadi situasi darurat. “Kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam meminimalkan dampak dari bencana alam,” ujarnya.

Dengan aktivitas yang terus berlangsung, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diimbau untuk selalu memperhatikan informasi terkini dari otoritas setempat dan mengikuti protokol keselamatan yang telah ditetapkan. Enam kali letusan beruntun Anak Krakatau, kolom abu hitam pekat mengarah ke Barat Laut dan Utara menjadi pengingat akan kekuatan alam yang harus dihadapi dengan sikap waspada dan siap sedia.

Related Post

Tinggalkan komentar