Hesti.id – 07 Juli 2026 | Serangan besar-besaran Rusia kembali menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada malam Minggu (5/7/2026), mengakibatkan sedikitnya 27 orang tewas. Serangan ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan, 15 korban tewas berada di pusat kota Kyiv, sementara 12 lainnya berasal dari wilayah sekitarnya. Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa dari total 68 rudal yang diluncurkan Rusia, tidak satu pun berhasil dicegat. Ini menunjukkan adanya kekurangan serius dalam sistem pertahanan udara Ukraina, terutama untuk menghadapi rudal balistik yang diluncurkan oleh Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa meskipun pasukan Ukraina masih dapat mencegat rudal jelajah dan drone, mereka tidak mampu menghadapi serangan rudal balistik yang intens. Dalam konteks ini, Zelensky mendesak negara-negara sekutu untuk memberikan dukungan yang lebih kuat, terutama menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Baca juga:
Serangan ini bukanlah yang pertama dalam waktu dekat. Hanya beberapa hari sebelumnya, pada hari Kamis, serangan serupa juga menyebabkan lebih dari 30 orang tewas, menunjukkan peningkatan intensitas serangan dari pihak Rusia. Pada serangan terbaru ini, lebih dari 351 drone juga diluncurkan, dengan sekitar 326 di antaranya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan.
Tim penyelamat masih terus berupaya menemukan dan menyelamatkan korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengungkapkan bahwa banyak bangunan apartemen mengalami kerusakan parah dan bahkan beberapa di antaranya runtuh akibat serangan rudal.
Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Timur Tkachenko, menyatakan bahwa serangan ini terjadi tepat sebelum KTT NATO, di mana Zelensky dijadwalkan bertemu dengan pemimpin dunia lainnya, termasuk Presiden Amerika Serikat. Situasi ini menambah tekanan pada Ukraina untuk mendapatkan lebih banyak bantuan dan memperkuat pertahanan udaranya.
Sementara itu, otoritas Ukraina menuduh Rusia kembali menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil dalam serangan ini. Masyarakat pun merasa semakin terancam, dengan banyak yang memilih berlindung di stasiun bawah tanah saat serangan terjadi.
Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina juga meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di Rusia, sebagai balasan atas serangan yang dilakukan oleh Moskow. Hal ini menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berfokus pada pertahanan, tetapi juga serangan balasan untuk melemahkan posisi Rusia di medan perang.
Dengan meningkatnya jumlah korban dalam serangan ini, Ukraina semakin mendesak dukungan internasional untuk memperkuat pertahanan mereka. Serangan ini jelas menunjukkan bahwa Rusia luncurkan serangan paling mematikan ke Kiev, 27 tewas [titlebase] dan menandai eskalasi yang berbahaya dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun.
Warga Kyiv kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa serangan semacam ini mungkin akan terus berlanjut, menjadikan setiap hari sebagai perjuangan untuk bertahan hidup dalam situasi yang semakin tidak menentu.











