29 Juni 2026

Dampak FOMO Nongkrong Terhadap Keuangan Mahasiswa

Penulis

Reksya Reksya Khairulanwar

Dampak FOMO Nongkrong Terhadap Keuangan Mahasiswa
Dampak FOMO Nongkrong Terhadap Keuangan Mahasiswa

Hesti.id – 29 Juni 2026 | Fenomena FOMO nongkrong bikin kantong mahasiswa jebol menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan di kalangan Gen Z. Ketika notifikasi Instagram berbunyi dan story teman memperlihatkan suasana nongkrong di kafe kekinian, dorongan untuk ikut serta sering kali mengabaikan kondisi keuangan yang sebenarnya kritis. Tidak jarang, mahasiswa terpaksa merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menjaga eksistensi di media sosial, meskipun saldo di dompet semakin menipis.

Hasil survei Jakpat 2025 menunjukkan bahwa 68% mahasiswa dari generasi ini mengaku pernah memaksakan diri untuk nongkrong demi tidak ketinggalan tren. Fenomena ini jelas menunjukkan bahwa tekanan sosial yang dihadapi mahasiswa telah beralih dari kebutuhan sosial menjadi kebutuhan untuk mendapatkan validasi melalui media sosial. Nongkrong yang seharusnya menjadi sarana bersosialisasi, kini berubah menjadi ajang pamer gaya hidup.

Media sosial, terutama Instagram dan TikTok, berperan besar dalam menciptakan suasana FOMO yang melanda mahasiswa. Algoritma yang cerdas membuat kita merasa tertekan jika tidak mencoba kafe viral atau tempat-tempat estetik lain yang sedang tren. Hal ini mengakibatkan standar nongkrong yang semakin tinggi. Warung kopi dengan harga terjangkau kini tergantikan oleh coffee shop yang mematok harga minimal 50 ribu sekali duduk. Tentu saja, ini berdampak pada kantong mahasiswa yang semakin menipis.

Bayangkan jika seorang mahasiswa pergi nongkrong tiga kali dalam seminggu, dengan biaya ngopi 45 ribu, parkir 5 ribu, dan bensin 10 ribu. Total biaya sekali nongkrong mencapai 60 ribu, yang berarti sebulan bisa menghabiskan 720 ribu. Mengingat uang bulanan rata-rata mahasiswa kosan berkisar 1,5 juta, hampir 48% dari anggaran bulanan mereka hanya habis untuk menjaga image di depan teman-teman.

Lebih parahnya lagi, banyak mahasiswa yang akhirnya terpaksa berutang kepada teman, telat membayar biaya kos, atau bahkan harus makan mi instan selama dua minggu demi menutupi pengeluaran yang membengkak akibat nongkrong. Selain itu, produktivitas juga ikut menurun. Banyak yang awalnya berniat untuk mengerjakan tugas sambil nongkrong, tetapi kenyataannya, waktu yang dihabiskan lebih banyak untuk mengobrol dan berselfie, bukan untuk menyelesaikan tugas.

Riset dari Universitas Indonesia 2024 mengungkapkan bahwa 62% mahasiswa merasa kurang produktif saat menjalani tugas di tempat nongkrong dibandingkan di perpustakaan. Ini adalah masalah ganda: uang terbuang dan tugas tidak terselesaikan. Jika dibiarkan, fenomena FOMO ini dapat berujung pada kecemasan finansial yang lebih serius.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk melakukan perubahan dalam cara mereka melihat dan menjalani fenomena FOMO ini. Mengubah mindset dari FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out) bisa menjadi langkah awal yang baik. Mari belajar untuk bangga menolak ajakan nongkrong demi menjaga kesehatan finansial dan menjaga IPK tetap tinggi.

Ada beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi problema ini:

  • Buat anggaran nongkrong yang tidak lebih dari 200 ribu per bulan.
  • Pindahkan lokasi nongkrong ke tempat yang lebih hemat, seperti taman kampus atau perpustakaan yang gratis.
  • Pilih teman-teman yang mendukung keputusan untuk menabung dan tidak menghakimi pilihanmu untuk tidak ikut nongkrong.

Ingat, tidak semua yang terlihat di media sosial itu nyata. Kadang-kadang, momen terbaik untuk bersantai bisa didapatkan dengan rebahan di kamar sambil mendengarkan musik tanpa harus mengeluarkan uang. Dengan langkah-langkah yang tepat, mahasiswa dapat menghindari jebakan FOMO yang merugikan keuangan mereka.

Related Post

Tinggalkan komentar