Hesti.id – 24 Juni 2026 | China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir menjadi topik hangat saat ini. Pemerintah China mengomentari rencana negara-negara dalam kelompok G7 untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok mineral penting dan logam tanah jarang. Bahkan, China juga menyoroti manuver Jepang di acara yang berlangsung di Perancis itu.
Mengenai menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global mineral penting, posisi China tidak berubah. Standardisasi dan penyempurnaan sistem pengendalian ekspor China konsisten dengan praktik internasional dan dilakukan untuk lebih melindungi perdamaian dunia dan stabilitas regional, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.
Secara khusus, Lin Jian juga mengomentari Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi yang dalam KTT G7 berupaya untuk menggalang sekutu dan memicu konfrontasi. Dia pun mengingatkan upaya Jepang kepada China tak akan berhasil. China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir merupakan langkah strategis yang diambil China untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Baca juga:
China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir juga berdampak pada biaya pembuatan visa Jepang. Pemerintah Jepang akan menaikkan biaya visa bagi warga negara asing untuk pertama kalinya dalam 48 tahun, begitu laporan Kyodo. Perubahan itu menyusul keputusan Kabinet yang akan menaikkan biaya visa sekali masuk dari 3.000 yen atau sekitar Rp 330 ribu menjadi 15 ribu yen atau sekitar Rp 1,6 juta.
China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir merupakan isu yang kompleks dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait. Dalam beberapa hari terakhir, China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir telah menjadi topik perbincangan hangat di kalangan masyarakat internasional.
Dalam kesimpulan, China Larang Ekspor ke Jepang, Bendung Remiliterisasi dan Cegah Punya Nuklir merupakan langkah strategis yang diambil China untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya. Isu ini memiliki dampak yang signifikan pada hubungan internasional dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait.










