Hesti.id – 03 Juli 2026 | Kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, kembali menjadi sorotan publik. Dalam sidang vonis yang berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Nadiem dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Pengacara terkenal, Hotman Paris, tidak segan-segan untuk mengkritik Nadiem, menekankan bahwa ‘Hotman beberkan kesalahan Nadiem di sidang, sebut tak berguna menangis, jaksa di atas angin’.
Usai sidang, Hotman menegaskan bahwa tidak ada gunanya bagi Nadiem untuk menangis atau mencari simpati publik. “Sekali lagi saya ingatkan, tidak ada gunanya nangis, tidak ada gunanya melibatkan massa, tidak ada gunanya melibatkan ribuan profesor, fokus ke masalah hukumnya,” ujarnya. Hotman berpendapat bahwa inti permasalahan hukum yang dihadapi Nadiem hanya satu, yaitu apakah harga pengadaan laptop Chromebook yang menjadi bagian dari dakwaan itu wajar atau tidak.
Hotman, yang sebelumnya menjadi kuasa hukum Nadiem, menekankan pentingnya substansi hukum dalam perkara ini. Ia menjelaskan bahwa jika harga Chromebook terbukti wajar, maka unsur kerugian negara akan gugur sehingga tuduhan korupsi tidak dapat dipertahankan. “Masalah hukumnya hanya satu, apakah harga Chromebook itu wajar atau tidak. Hanya itu,” tegasnya.
Baca juga:
Lebih lanjut, Hotman mengungkapkan bahwa posisi jaksa saat ini berada di atas angin. Hal ini dikarenakan jaksa telah menerima hasil audit terbaru dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menunjukkan bahwa harga pengadaan Chromebook tidak wajar. Data dari audit tersebut menyebutkan adanya potensi kerugian negara yang mencapai Rp 1,5 triliun. “Jaksa di posisi yang menguntungkan karena berhasil mendapat audit baru yang menyatakan harga tak wajar,” tambah Hotman.
Nadiem, yang saat ini tengah berjuang untuk mengajukan banding, menyatakan bahwa ia ingin memperjuangkan kebenaran dan memberikan dukungan kepada kalangan profesional yang merasa dikriminalisasi. Namun, Hotman mengingatkan bahwa simpati publik tidak akan mempengaruhi keputusan pengadilan. “Fokus ke masalah hukumnya. Tidak ada yang lebih penting dari pembuktian di pengadilan,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Hotman juga mengungkapkan rasa peduli kepada keluarga Nadiem, mengingat ia telah lama mengenal ayah Nadiem, Nono Anwar Makarim. Meskipun demikian, ia tetap menekankan pentingnya untuk tidak terjebak dalam simpati publik tetapi sebaliknya, fokus pada substansi hukum yang ada.
Kasus ini bukan hanya menjadi perhatian bagi Nadiem dan pengacaranya, tetapi juga bagi masyarakat luas yang mengikuti perkembangan hukum di Indonesia. Vonis yang dijatuhkan kepada Nadiem menciptakan berbagai opini di masyarakat, baik yang mendukung maupun yang menolak. Namun, dengan pernyataan tegas dari Hotman, jelas bahwa jalan hukum yang ditempuh akan sangat bergantung pada pembuktian yang ada di pengadilan.
Dengan semua dinamika ini, publik masih menunggu langkah selanjutnya dari Nadiem dan tim hukumnya. Apakah mereka akan bisa membuktikan bahwa harga yang dibayarkan untuk Chromebook tersebut adalah wajar atau tidak, jelas akan menjadi penentu nasib hukum Nadiem ke depan.











