3 Juli 2026

Chevalier Menang Besar, Demokrat Terus Guncang Kiri

Penulis

Kim Cuc Krissa Kim Cuc

Chevalier Menang Besar, Demokrat Terus Guncang Kiri
Chevalier Menang Besar, Demokrat Terus Guncang Kiri

Hesti.id – 03 Juli 2026 | Didukung Zohran Mamdani, sosialis Chevalier guncang Demokrat, ini profilnya. Darializa Avila Chevalier baru saja mencuri perhatian dunia politik Amerika setelah berhasil mengalahkan anggota Kongres lima periode, Adriano Espaillat, dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di Distrik Kongres ke-13 New York. Kemenangannya ini menjadi sorotan utama, bukan hanya karena ia berhasil meraih sekitar 49 persen suara, tetapi juga karena keberhasilannya melewati mesin politik tradisional yang selama ini mendominasi partai tersebut.

Kemenangan Chevalier, yang juga didukung oleh Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengindikasikan pergeseran signifikan dalam Partai Demokrat menuju arah yang lebih progresif. Dalam pidato kemenangannya, Chevalier menekankan pentingnya perubahan dalam politik yang selama ini memberikan ‘remah-remah’ kepada rakyat. Ia menyatakan, “Mulai hari ini, kami tidak akan lagi menerima politik yang hanya memberi kami remah-remah, lalu mengharapkan kami berterima kasih atas itu.”

Avila Chevalier, seorang sosialis berusia 32 tahun, bukanlah sosok politisi karier. Ia memulai karier politiknya sebagai penyelidik pembela publik dan aktif dalam berbagai isu sosial seperti Palestina, imigrasi, dan keadilan rasial. Keterlibatannya dalam politik elektoral muncul dari ketidakpuasan terhadap Espaillat, terutama terkait kebijakan yang dianggapnya tidak memadai terkait isu Palestina. Pada Februari 2025, Chevalier bahkan mengirim email kepada Justice Democrats untuk menyampaikan keluhan terhadap Espaillat, yang kemudian membawanya ke jalur pencalonan.

Dalam pemungutan suara internal, anggota NYC-DSA memberikan dukungan yang kuat kepada Chevalier dengan 82 persen suara untuk mendukung pencalonannya. Dukungan ini sangat penting mengingat Chevalier sebelumnya pernah menjadi pengorganisir kampanye untuk Mamdani saat ia mencalonkan diri sebagai wali kota, yang menunjukkan bahwa ia mewarisi jaringan politik yang kuat.

Dalam konteks kemenangan Chevalier, Jon Favreau, mantan penulis pidato Presiden Barack Obama, menyatakan bahwa ini adalah sinyal kuat dari semakin menguatnya kelompok progresif di dalam Partai Demokrat. Menurutnya, Chevalier mungkin merupakan kandidat paling kiri yang pernah memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Dia menekankan bahwa keberhasilannya bukan sekadar kemenangan individu, tetapi juga mencerminkan kekuatan organisasi progresif yang berhasil mengalahkan mesin politik tradisional.

Chevalier mengangkat isu-isu yang sangat relevan bagi masyarakat, seperti biaya hidup, gentrifikasi, perumahan, layanan kesehatan universal, dan perlindungan imigran. Ia menuduh Espaillat terlalu lama berkuasa dan jarang mendengarkan kebutuhan warga. Dalam pernyataannya, Chevalier mengungkapkan, “Ia telah menduduki jabatan publik selama 30 tahun, dan kini sudah saatnya terjadi perubahan.”

Melihat perkembangan ini, Dan Pfeiffer, rekan Favreau, juga menyoroti bahwa kekalahan sejumlah petahana dari kandidat progresif merupakan peringatan serius bagi elite Demokrat. Ia menganggap bahwa perkembangan ini menunjukkan bahwa infrastruktur politik Partai Demokrat mulai kehilangan daya saing melawan kelompok progresif yang lebih terorganisir dan agresif.

Secara keseluruhan, kemenangan Darializa Avila Chevalier yang didukung Zohran Mamdani menandai babak baru dalam sejarah politik Amerika Serikat, khususnya dalam konteks Partai Demokrat. Dengan semakin kuatnya suara-suara progresif, masa depan partai ini akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menghadapi tantangan dari dalam dan luar. Di saat yang sama, Chevalier menjadi simbol harapan bagi banyak orang yang mendambakan perubahan nyata dalam politik dan kebijakan publik.

Related Post

Tinggalkan komentar