Hesti.id – 09 Juli 2026 | Pada hari Rabu (8/7), AS serang Iran lagi, gempur lebih dari 80 target Iran usai serangan tanker di Selat Hormuz. Serangan ini dilakukan oleh militer AS sebagai respons terhadap dugaan agresi Iran yang menargetkan kapal-kapal komersial di wilayah Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan internasional.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa serangan ini merupakan langkah untuk menekan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di perairan tersebut. Dalam sebuah pernyataan di media sosial, CENTCOM menekankan bahwa Amerika Serikat mengutuk tindakan agresif Iran yang mengancam keselamatan pelayaran komersial.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga mengisyaratkan bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. “Kami akan menghantam mereka dengan keras. Mereka melanggar perjanjian setiap hari,” ungkap Trump saat menghadiri KTT NATO di Ankara.
Baca juga:
Serangan yang diluncurkan oleh AS menargetkan daerah-daerah strategis di Iran, termasuk kawasan Qeshm dan Sirik, yang berada dekat dengan Selat Hormuz. Laporan dari media pemerintah Iran, IRNA, menyebutkan bahwa ledakan terdengar di beberapa kota pelabuhan seperti Bandar Abbas, Chabahar, dan Konarak, yang juga mengalami pemadaman listrik massal akibat serangan tersebut.
Melihat situasi ini, Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara semakin meningkat, dan risiko konflik terbuka semakin besar.
Serangan ini tidak hanya berdampak pada situasi politik dan militer, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga setiap ketegangan di wilayah ini dapat berpengaruh signifikan terhadap pasar energi internasional.
Dalam konteks ini, banyak negara, termasuk Pakistan dan Qatar, mendesak untuk segera melakukan deeskalasi guna mencegah terjadinya perang yang lebih luas. Namun, dengan keputusan AS serang Iran lagi, gempur lebih dari 80 target Iran usai serangan tanker di Selat Hormuz, situasi ini tampaknya akan terus memanas.
Secara keseluruhan, serangan ini mencerminkan ketidakstabilan yang terus terjadi di kawasan Timur Tengah. Setiap langkah yang diambil oleh AS dan Iran akan sangat berpengaruh terhadap hubungan internasional, terutama dalam konteks keamanan dan perdagangan global.











