9 Juli 2026

Pemadaman Bergilir di Kaltim: Dampak dan Solusi yang Diharapkan

Penulis

Hehet Hehet Hehet

Pemadaman Bergilir di Kaltim: Dampak dan Solusi yang Diharapkan
Pemadaman Bergilir di Kaltim: Dampak dan Solusi yang Diharapkan

Hesti.id – 09 Juli 2026 | Pemadaman bergilir yang terjadi di Kalimantan Timur (Kaltim) sejak pertengahan Juni 2026 telah membawa dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Setiap hari, wilayah-wilayah di Kaltim bergantian mengalami pemadaman listrik selama sekitar tiga jam. Situasi ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak pada penyediaan air bersih di sejumlah daerah.

Menurut laporan dari PDAM Balikpapan, pemadaman listrik menyebabkan gangguan pada sistem pompa air, yang berimbas pada distribusi air bersih ke masyarakat. Perusahaan daerah tersebut terpaksa mengandalkan genset berkapasitas terbatas untuk menjaga suplai air, namun mereka menegaskan bahwa tidak akan menaikkan tarif air meski mengalami kesulitan.

PLN (Perusahaan Listrik Negara) menjelaskan bahwa pemadaman bergilir ini disebabkan oleh gangguan teknis pada PLTGU swasta, dan mereka menargetkan normalisasi listrik pada 12 Juli 2026. Namun, target ini masih terus dievaluasi berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Masyarakat berharap agar pemulihan dapat dilakukan secepatnya, mengingat banyak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengalami penurunan omzet akibat pemadaman ini.

Salah satu pelaku UMKM di Banjarbaru, Lilis, mengeluhkan usahanya yang terganggu akibat listrik yang sering padam. Ia terpaksa menutup gerainya setiap kali terjadi pemadaman, yang berdampak langsung pada penjualannya. Hal serupa juga dialami oleh Pasha, yang memiliki usaha makanan beku. Ia khawatir produk-produk yang dijualnya akan rusak jika lemari pendinginnya tidak berfungsi dengan baik.

Koalisi organisasi masyarakat sipil, termasuk WALHI, juga mengkritisi situasi ini. Mereka menekankan bahwa meskipun Kalimantan kaya akan sumber daya batu bara, hal tersebut tidak menjamin keandalan pasokan listrik. Direktur WALHI Kalimantan Tengah, Janang Firman, meminta agar instansi berwenang melakukan audit terhadap sistem kelistrikan di wilayah tersebut agar transparansi dan akuntabilitas dapat terjaga.

Pemadaman bergilir ini tidak hanya terjadi di Kaltim, tetapi juga melanda wilayah lain di Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. PLN menargetkan bahwa kondisi kelistrikan akan kembali normal pada akhir September 2026, seiring dengan proses pemulihan pembangkit di sistem interkoneksi Kalimantan. Namun, PLN mengingatkan bahwa pemadaman dapat terjadi secara dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pembangkit.

Para pelanggan listrik di Kaltim sangat berharap agar masalah ini segera teratasi, mengingat kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi. Masyarakat juga berharap agar pemerintah dapat melakukan reformasi tata kelola energi, sehingga daerah penghasil batu bara seperti Kaltim tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga mendapatkan jaminan pasokan listrik yang andal.

Related Post

Tinggalkan komentar