Hesti.id – 30 Juni 2026 | Malam semakin larut, namun lampu di kamar kos Rizky masih menyala. Di hadapan laptop yang sering mengalami gangguan, ia berjuang untuk menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk. Sesekali, ia menatap dompet tipis di meja, menarik napas panjang, dan memikirkan bagaimana cara menghemat uang makan untuk besok. Di balik senyum dan unggahan bahagia di media sosial, banyak mahasiswa yang berjuang diam-diam untuk bertahan di tanah perantauan.
Bagi Rizky, seorang mahasiswa semester enam di salah satu universitas negeri, kehidupan sebagai mahasiswa bukan hanya sekedar belajar di kampus. Ia berasal dari desa kecil dengan latar belakang ekonomi yang sederhana; ayahnya bekerja sebagai buruh harian dan ibunya berjualan kecil-kecilan di rumah. “Kadang saya bingung harus bayar kos atau beli buku kuliah dulu,” ujarnya dengan senyum yang mencerminkan keteguhan hati.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rizky bekerja paruh waktu sebagai penjaga warung kopi pada malam hari. Rutinitasnya padat; setelah pulang kerja, ia masih harus menyelesaikan tugas kuliah hingga larut malam. Waktu untuk beristirahat adalah barang langka dalam hidupnya. Meskipun begitu, Rizky menegaskan tekadnya untuk tidak menyerah. Baginya, pendidikan adalah harapan untuk mengubah nasib keluarganya di masa depan. “Orang tua saya sudah berjuang keras menyekolahkan saya. Saya tidak mau berhenti di tengah jalan,” tuturnya.
Baca juga:
Fenomena mahasiswa yang bekerja sambil kuliah semakin banyak ditemukan. Banyak yang menjadi pengemudi ojek online, pelayan toko, hingga freelancer demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan. Menurut para dosen, mahasiswa saat ini dituntut untuk mampu bertahan dalam situasi yang kompleks. Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga harus beradaptasi dengan realitas kehidupan yang penuh tantangan.
Tekanan akademik juga menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi. Tugas yang menumpuk, persaingan nilai yang ketat, dan tuntutan dari berbagai organisasi sering kali membuat mahasiswa mengalami stres dan kelelahan mental. Dalam konteks ini, pelatihan untuk mengelola waktu dan stres menjadi sangat penting. Di tengah segala kesulitan tersebut, kehidupan mahasiswa tetap menyimpan harapan. Persahabatan, solidaritas antar teman, dan mimpi tentang masa depan menjadi sumber kekuatan bagi mereka untuk terus bertahan.
Bagi Rizky, secangkir kopi hangat dan pesan singkat dari orang tua adalah penyemangat yang cukup untuk menjalani hari-harinya yang berat. Kehidupan sebagai mahasiswa ternyata tidak selalu berkisar pada kesenangan dan kebebasan. Ada perjuangan yang sering kali tidak terlihat, air mata yang disembunyikan di balik tawa, dan mimpi besar yang terus diperjuangkan meskipun realita tidak berpihak.
Di kamar kos yang sederhana dan di tengah tumpukan tugas yang belum selesai, para mahasiswa belajar untuk menjadi kuat. Mereka berjuang bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi juga untuk menghadapi kehidupan dengan segala liku-likunya. Dalam kisah Rizky dan banyak mahasiswa lainnya, terdapat pelajaran berharga tentang ketahanan, harapan, dan tekad untuk mencapai mimpi di tengah tantangan kehidupan.









