30 Juni 2026

Inovasi Google: Ubah Smartphone Bekas Jadi Server Hemat Energi

Penulis

Aloisa Aloisa

Inovasi Google: Ubah Smartphone Bekas Jadi Server Hemat Energi
Inovasi Google: Ubah Smartphone Bekas Jadi Server Hemat Energi

Hesti.id – 29 Juni 2026 | Google Sulap HP Android Bekas Jadi Server Lebih Murah dan Ramah Lingkungan dalam sebuah inovasi yang menarik perhatian dunia teknologi. Bersama para peneliti dari University of California San Diego (UCSD), Google menemukan cara baru untuk memanfaatkan smartphone Android yang tidak lagi terpakai. Alih-alih menjadi limbah elektronik, ponsel lama ini diubah menjadi server yang berbiaya rendah dan mampu menjalankan berbagai tugas komputasi.

Pendekatan ini tidak hanya hemat biaya, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan dampak lingkungan. Dengan memanfaatkan perangkat yang masih memiliki performa baik, usia pakai smartphone dapat diperpanjang dan limbah elektronik bisa diminimalisir.

Setiap smartphone, termasuk yang diproduksi oleh Google, memiliki jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksinya. Oleh karena itu, menggunakan kembali perangkat lama dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan membuangnya dan membeli yang baru. Dalam penelitian tersebut, smartphone Google Pixel berusia sekitar tiga tahun telah menunjukkan performa yang mengesankan saat diuji menggunakan benchmark SPEC. Bahkan, dalam beberapa skenario, performa smartphone ini dapat melampaui beberapa prosesor server yang biasa digunakan di data center.

Untuk mengubah HP bekas menjadi server, para peneliti membongkar komponen-komponen tertentu dari smartphone, seperti layar, baterai, kamera, dan speaker, hanya menyisakan motherboard yang berisi chipset atau system-on-chip (SoC). Kemudian, sistem operasi Android diganti dengan Linux, yang lebih umum digunakan pada server. Dengan sistem operasi ini, smartphone bekas dapat menjalankan berbagai aplikasi server, termasuk platform orkestrasi seperti Kubernetes.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas dapat menghasilkan daya komputasi yang setara dengan satu prosesor server dual-socket. Meskipun teknologi ini belum mampu menggantikan server kelas atas untuk kebutuhan AI skala besar, performanya cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan komputasi ringan hingga menengah.

Implementasi di lingkungan pendidikan adalah salah satu aplikasi yang telah diuji. Tim dari UCSD berhasil menjalankan aplikasi pembelajaran menggunakan klaster yang terdiri dari sekitar 20 smartphone bekas. Sistem ini mampu melayani lebih dari 75 mahasiswa secara bersamaan tanpa perlu menggunakan layanan cloud yang lebih mahal. Di masa depan, tim peneliti berencana membangun pusat data lokal dengan memanfaatkan sekitar 2.000 smartphone bekas untuk mendukung ratusan kelas secara bersamaan.

Selain mengurangi limbah elektronik, pendekatan ini menawarkan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan membangun server baru. Hal ini sangat menarik di tengah meningkatnya harga komponen penting seperti chip memori, media penyimpanan, dan prosesor server. Dengan memanfaatkan perangkat yang sudah tidak digunakan, institusi pendidikan dan organisasi kecil dapat memperoleh kapasitas komputasi tanpa harus melakukan investasi besar.

Namun, penting untuk dicatat bahwa meskipun menjanjikan, sistem ini belum ditujukan untuk menggantikan pusat data milik perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, atau Nvidia. Operator hyperscale memerlukan perangkat keras khusus yang memiliki keandalan tinggi dan lebih mudah dikelola dalam jumlah besar. Sebaliknya, server berbasis smartphone bekas lebih cocok digunakan oleh kampus, sekolah, laboratorium penelitian, organisasi nirlaba, dan startup dengan anggaran terbatas.

Dengan berbagai inovasi yang dilakukan, Google Sulap HP Android Bekas Jadi Server Lebih Murah dan Ramah Lingkungan menunjukkan bahwa smartphone Android yang tidak terpakai masih memiliki potensi besar. Dengan mengganti sistem operasi Android ke Linux dan memanfaatkan motherboard, puluhan smartphone bekas dapat menghasilkan performa komputasi yang cukup untuk berbagai kebutuhan pendidikan dan penelitian. Inovasi ini menjadi salah satu solusi menarik untuk mengurangi limbah elektronik sekaligus menghadirkan alternatif server berbiaya rendah di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar