Hesti.id – 29 Juni 2026 | Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia kembali menghadapi tantangan besar: Ketika Harga Naik Siapa yang Disalahkan Politik Framing di Tengah Tekanan Ekonomi Masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, cabai, dan bawang telah mengganggu daya beli masyarakat secara signifikan.
Fenomena ini tidak hanya menyangkut angka yang tertera di pasar, tetapi juga cara pandang kita terhadap masalah ini. Berbagai elemen, termasuk media, pemerintah, dan aktor politik, berperan dalam membingkai isu ini, menciptakan narasi yang bisa memengaruhi opini publik.
Sebagian media mengarahkan pandangan publik pada faktor-faktor global sebagai penyebab utama. Misalnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok sering kali disebut sebagai penyebab kenaikan harga. Narasi ini menempatkan pemerintah dalam posisi defensif, seolah-olah mereka tidak memiliki kontrol atas situasi yang terjadi.
Baca juga:
Sebaliknya, ada suara yang menekankan bahwa masalah utama terletak pada tata kelola distribusi pangan, efektivitas kebijakan yang diterapkan, serta pengawasan pasar yang lemah. Dengan kata lain, framing yang berbeda dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda pula di kalangan masyarakat.
Teori Framing yang dikemukakan oleh Erving Goffman menjelaskan bagaimana media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi cara orang memahami informasi tersebut. Dalam konteks Ketika Harga Naik Siapa yang Disalahkan Politik Framing di Tengah Tekanan Ekonomi Masyarakat, framing yang digunakan media dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap pemerintah dan kebijakannya.
Jika media lebih fokus pada faktor eksternal yang memengaruhi harga, masyarakat akan cenderung melihat pemerintah sebagai korban dari situasi yang tidak dapat mereka kendalikan. Namun, jika perhatian lebih diarahkan pada isu-isu internal seperti distribusi dan pengawasan, maka pemerintah akan lebih banyak menerima kritik terkait kinerjanya.
Hal ini menjadi sangat penting karena framing bukan hanya persoalan teknis dalam jurnalistik. Cara penyampaian informasi dapat memengaruhi opini publik, diskusi sosial, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah. Dengan adanya berbagai sumber informasi di era digital, masyarakat kini dituntut untuk lebih kritis dalam menyaring informasi yang diterima.
Oleh karena itu, sangat penting bagi publik untuk menyadari bahwa setiap pemberitaan membawa perspektif tertentu. Sikap kritis terhadap informasi sangat diperlukan agar masyarakat tidak hanya terjebak dalam satu narasi yang bisa jadi tidak mencerminkan kebenaran secara utuh. Media, di sisi lain, memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang berimbang, sehingga masyarakat dapat memahami persoalan ekonomi secara lebih menyeluruh.
Kenaikan harga kebutuhan pokok adalah masalah ekonomi yang nyata. Namun, lebih dari itu, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana realitas sosial dapat dibentuk melalui proses komunikasi. Dalam menghadapi arus informasi yang deras, tantangan terbesar masyarakat bukan hanya sekadar bagaimana menghadapi kenaikan harga, tetapi juga bagaimana memahami cara suatu peristiwa dibingkai dan dimaknai di ruang publik.











