Hesti.id – 29 Juni 2026 | Dalam pernyataannya yang menuai perhatian, Seskab Teddy menegaskan bahwa harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Pernyataan ini dianggapnya dapat membuat negara-negara tersebut merasa iri. Di tengah protes masyarakat atas kenaikan harga Pertamax, Teddy mengungkapkan bahwa harga baru yang mencapai Rp16.250 per liter tetap berada di bawah harga BBM RON 92/95 di negara seperti Kamboja, Myanmar, Timor Leste, dan Laos.
“Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain,” ujar Seskab Teddy dalam keterangannya yang dirilis pada Minggu (14/6/2026).
Namun, pernyataan ini tidak lepas dari kritik netizen. Banyak yang berpendapat bahwa meskipun harga BBM di Indonesia lebih murah, hal itu tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Hal ini mencerminkan bahwa perbandingan harga BBM dan pendapatan tidak dapat dilihat secara terpisah.
Baca juga:
Berdasarkan data, rata-rata gaji bulanan di Jakarta tercatat sebesar Rp7.999.200, sementara harga BBM di negara-negara tetangga adalah sebagai berikut:
| Negara | Gaji Bulanan Rata-rata | Harga BBM RON 92 (per liter) |
|---|---|---|
| Kamboja | Rp5.831.460 | Rp20.960 |
| Myanmar | Rp4.860.000 | Rp37.000 – Rp40.000 |
| Timor Leste | Rp4.680.000 | Rp31.500 – Rp32.300 |
| Laos | Rp3.510.000 | Rp24.000 – Rp26.900 |
Isu ini semakin panas di media sosial, di mana banyak netizen yang meluapkan emosi mereka. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa media massa dan algoritma media sosial seringkali mem-framing berita secara sempit. Hal ini mengarah pada kesalahpahaman mengenai kondisi ekonomi dan harga BBM di Indonesia dibandingkan dengan negara lain.
Framing yang tidak seimbang dapat mengaburkan fakta bahwa ada negara-negara lain yang meski memiliki harga BBM lebih tinggi, namun juga memiliki gaji yang lebih rendah. Akibatnya, banyak orang yang tidak melihat keseluruhan konteks dari isu ini dan hanya berfokus pada pernyataan Seskab Teddy.
Penting untuk diingat bahwa meskipun argumen Seskab Teddy mungkin tidak sepenuhnya salah, reaksi publik menunjukkan bahwa ada disonansi antara harga BBM dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, netizen seharusnya lebih teliti dalam memahami informasi dan tidak terburu-buru dalam menyimpulkan.
Dalam konteks ini, netizen diharapkan dapat berperan aktif dalam menyaring informasi, memahami konteks yang lebih luas, serta menyadari bahwa dalam hal harga BBM RON 92, posisi Indonesia masih terbilang menguntungkan. Mari kita berusaha untuk lebih cerdas dalam menanggapi berita dan kebijakan, serta tidak terjebak dalam kemarahan yang tidak berdasar.











