Hesti.id – 02 Juli 2026 | Samsung Solve for Tomorrow 2026 Latih 2.600 Pemuda Indonesia Kuasai AI dengan tujuan mencetak generasi inovator yang siap menghadapi tantangan teknologi masa depan. Program ini merupakan inisiatif dari Samsung Electronics Indonesia yang berhasil menyaring lebih dari 4.000 pendaftar dari seluruh penjuru tanah air. Sebanyak 2.600 pelajar tingkat menengah atas (SMA) dan mahasiswa dari 27 provinsi terpilih untuk mengikuti lokakarya intensif yang berbasis Design Thinking.
Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk membuat generasi muda mahir dalam penggunaan teknologi berbasis STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) dan Kecerdasan Buatan (AI), tetapi juga untuk mendorong mereka dalam merumuskan solusi yang berdampak nyata terhadap isu-isu yang ada di masyarakat. Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, menekankan bahwa potensi generasi muda harus diarahkan dengan strategi yang tepat.
“Tantangan saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan lebih banyak ide, tetapi bagaimana memastikan ide tersebut dapat berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengubah potensi tersebut menjadi inovasi berbasis STEM dan AI,” ungkap Anggi.
Baca juga:
Dalam era di mana teknologi berkembang pesat, Design Thinking menjadi sangat krusial. Banyak pengembang pemula terjebak dalam kecanggihan teknologi tanpa memahami urgensi permasalahan yang ada. Kusuma Sukma, Partner Coach UD Impact Korea dan trainer program SFT 2026, menjelaskan bahwa empati adalah elemen yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
“Kesalahan umum adalah terlalu cepat jatuh cinta pada solusi yang terlihat canggih, namun belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna. Perpaduan antara kecepatan analisis AI dan empati manusia adalah kunci untuk menciptakan inovasi yang inklusif,” jelas Kusuma.
Program lokakarya ini terdiri dari empat sesi pelatihan dengan masing-masing sesi berdurasi 2,5 jam. Rangkaian pembelajaran mencakup:
- Introduction & Empathize: Memahami konteks isu sosial dari sudut pandang korban terdampak.
- Define & Ideate: Merumuskan pernyataan masalah dan sesi curah gagasan.
- Prototyping: Mewujudkan ide menjadi konsep solusi awal yang aplikatif.
- Testing: Melakukan validasi sederhana untuk mengukur tingkat relevansi solusi.
Setelah lokakarya, peserta diwajibkan menyusun concept paper berdasarkan tiga pilar tema utama, yaitu Sustainability & Environment, Education, dan Sport & Technology. Data menunjukkan bahwa 47,83% peserta menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan, yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam menjaga ketahanan lingkungan.
Program ini akan melanjutkan perjalanan dengan menyeleksi 40 tim terbaik untuk melangkah ke babak semifinal. Pada fase ini, peserta akan mendapatkan pelatihan AI Amplification dan bimbingan dari para pakar internal Samsung serta mitra strategis. Metode Design Thinking yang diterapkan dalam program ini telah terbukti efektif dalam mencetak solusi inovatif.
Nathanael, perwakilan dari Tim KYGB yang sukses meraih juara ketiga pada ajang SFT 2025 lalu, menjelaskan bagaimana kerangka berpikir ini mengubah cara timnya berinovasi. “Metode ini memastikan kami untuk mengidentifikasi akar masalah dari sudut pandang mereka yang terdampak,” ungkapnya.
Dengan kombinasi kemampuan teknis, kecerdasan buatan, dan empati sosial, program Samsung Solve for Tomorrow 2026 diharapkan dapat menjadi katalis bagi lahirnya inovator-inovator lokal yang tangguh di masa depan.











