
Hesti.id – 15 Juli 2026 | Industri smartphone terus berinovasi untuk mencari bentuk pengalaman pengguna yang lebih unik, dan Hisense tampaknya tidak mau ketinggalan dalam tren tersebut. Kini, Hisense A10 Dirilis Bawa E-Ink di Depan dan LCD Magnetik di Belakang, sebuah langkah radikal yang membalikkan konsep standar perangkat genggam. Alih-alih mengandalkan satu layar OLED atau LCD yang menyala terus-menerus, perangkat ini mengadopsi pendekatan modular yang menarik perhatian para pecinta teknologi yang mengutamakan efisiensi daya dan kenyamanan mata.
Sebagian besar smartphone di pasaran saat ini didominasi oleh panel OLED yang menawarkan warna cerah dan refresh rate tinggi, namun hal ini seringkali mengorbankan masa pakai baterai dan kenyamanan saat membaca teks dalam durasi lama. Hisense A10 hadir sebagai solusi bagi pengguna yang merasa lelah dengan silau layar digital. Di bagian depan, smartphone ini dibekali dengan layar E-Ink berukuran 6,13 inci. Layar jenis ini telah lama dikenal sebagai teknologi yang sangat nyaman untuk membaca ebook karena sifatnya yang reflektif, mirip dengan kertas buku biasa.
Keunggulan utama dari panel E-Ink adalah hemat daya. Layar ini hanya membutuhkan energi saat ada perubahan gambar, sehingga penggunaan baterai untuk aktivitas membaca bisa menjadi sangat minimal. Namun, keterbatasan utama dari teknologi E-Ink adalah refresh rate yang rendah, membuatnya kurang cocok untuk menonton video, bermain game, atau sekadar menggulir feed media sosial. Di sinilah keunikan dari desain Hisense A10 benar-benar terlihat.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Hisense menyertakan aksesori berupa modul layar LCD yang dapat dipasang di bagian belakang perangkat menggunakan mekanisme magnet. Ketika pengguna membutuhkan tampilan dengan warna penuh dan kecepatan tinggi, modul ini tinggal ditempelkan pada bodi belakang smartphone. Konsep ini memungkinkan pengguna untuk memiliki fleksibilitas maksimal; mereka dapat menggunakan E-Ink untuk produktivitas dan membaca, lalu beralih ke LCD untuk hiburan dan interaksi sosial tanpa perlu mematikan perangkat atau beralih ke aplikasi lain yang berat.
Yang menarik, Hisense memilih pendekatan modular dibandingkan dengan desain dual-screen permanen seperti yang pernah diperkenalkan oleh kompetitor seperti Bigme dengan model Hibreak Dual 2. Dengan desain yang bisa dilepas-pasang, Hisense A10 menawarkan bobot yang lebih ringan saat hanya menggunakan layar E-Ink, serta perlindungan layar utama yang lebih baik ketika tidak digunakan. Sayangnya, hingga saat ini Hisense belum mengungkap spesifikasi teknis detail dari modul LCD tambahan tersebut, seperti resolusi atau ukuran persisnya. Yang pasti, modul ini dijual secara terpisah, menambah variasi opsi pembelian bagi konsumen.
Dibalik konsep layarnya, Hisense A10 tidak pelit dalam hal spesifikasi internal. Perangkat ini telah didukung oleh jaringan 5G, memastikan konektivitas yang cepat dan stabil. Sistem operasinya berjalan di atas Android 16, yang merupakan versi terbaru dari ekosistem Google, memberikan akses ke berbagai aplikasi modern dengan dukungan pembaruan yang matang.
Performa harian ditenagai oleh System on Chip (SoC) buatan Qualcomm yang diproduksi dengan fabrikasi 4nm. Meskipun Hisense belum mengungkapkan tipe prosesor spesifik yang digunakan, kehadiran prosesor 4nm menandakan bahwa perangkat ini dirancang untuk efisiensi energi yang optimal, yang sangat krusial mengingat tantangan termal dan daya pada perangkat dengan dua jenis layar berbeda. Prosesor kelas atas dari Qualcomm biasanya menawarkan keseimbangan yang baik antara performa komputasi tinggi dan konsumsi daya yang terkendali.
Hisense A10 saat ini dipasarkan di Tiongkok dengan harga sekitar CNY 4.000, yang jika dikonversikan setara dengan Rp 10 jutaan. Namun, pengalaman lengkap dengan fitur dual-screen membutuhkan pembelian modul LCD tambahan. Estimasi harga untuk modul LCD magnetik tersebut adalah sekitar CNY 3.000 atau Rp 8 jutaan. Artinya, jika Anda ingin mendapatkan pengalaman penuh dari konsep ini, total pengeluaran yang diperlukan bisa mencapai sekitar Rp 18 jutaan.
Harga ini menempatkan Hisense A10 di segmen niche, bukan sebagai perangkat mainstream untuk semua orang. Target pasar utamanya adalah profesional, penulis, pembaca berat, dan entusiast teknologi yang menghargai fleksibilitas dan kesehatan mata di atas segalanya.
Kemunculan Hisense A10 menjadi bukti bahwa inovasi dalam industri smartphone belum habis-habisnya. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah konsep layar magnetik ini lebih menarik dibandingkan dengan smartphone dual-screen permanen. Keunggulan utamanya terletak pada fleksibilitas dan bobot yang bisa berubah sesuai kebutuhan. Namun, tantangan utamanya tentu saja pada daya tahan magnet, risiko kehilangan modul tambahan, dan ekosistem aplikasi yang perlu dioptimalkan untuk berjalan mulus di kedua jenis layar tersebut.
Sementara para kompetitor seperti Bigme sudah lebih dulu memperkenalkan dual-screen permanen, pendekatan modular Hisense menawarkan estetika dan fungsionalitas yang berbeda. Apakah pasar Indonesia atau global akan menyambut konsep ini dengan hangat? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, Hisense berhasil menarik perhatian dunia dengan Hisense A10 Dirilis Bawa E-Ink di Depan dan LCD Magnetik di Belakang, membuka babak baru dalam evolusi perangkat genggam.