
Hesti.id – 16 Juli 2026 | Perusahaan keamanan siber global, Fortinet, baru-baru ini merilis laporan terbarunya, 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report. Laporan ini menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi oleh organisasi di era digital saat ini, terutama berkaitan dengan kekurangan talenta keamanan siber dan risiko yang ditimbulkan oleh penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Fortinet menemukan bahwa kurangnya tenaga ahli keamanan siber masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pelanggaran keamanan yang berdampak besar. Meskipun penggunaan perangkat keamanan berbasis AI telah memberikan manfaat, masih diperlukan peningkatan kompetensi dan pengembangan keterampilan baru untuk memanfaatkan teknologi ini secara optimal.
Laporan yang dirilis oleh Fortinet menunjukkan bahwa kekurangan talenta keamanan siber dan risiko yang ditimbulkan oleh penggunaan AI masih menjadi tantangan utama bagi organisasi di Indonesia. Kurangnya tenaga ahli keamanan siber tidak hanya disebabkan oleh minimnya investasi dalam pengembangan talenta, tetapi juga oleh kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya keamanan siber di level manajemen.
Di sisi lain, penerapan AI di lingkungan perusahaan membawa risiko baru yang belum sepenuhnya dipahami oleh dewan direksi. Meskipun 68% pemimpin organisasi di Indonesia meyakini bahwa anggota dewan direksi mereka telah memahami potensi risiko dari penggunaan AI, masih ada kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran terkait hal ini.
Seiring dengan meningkatnya penerapan AI, hampir tiga perempat responden (73%) memperkirakan akan ada kebutuhan yang semakin tinggi untuk peran yang berfokus pada pengawasan dan tata kelola AI dalam tim keamanan siber dalam tiga tahun ke depan. Fortinet menekankan bahwa investasi dalam pengembangan keterampilan dan pelatihan keamanan siber terkait AI sangat penting untuk mengatasi tantangan ini.
Kurangnya talenta keamanan siber dan risiko yang ditimbulkan oleh penggunaan AI tidak hanya berdampak pada keamanan organisasi, tetapi juga pada ketahanan bisnis secara keseluruhan. Dalam lanskap ancaman yang semakin kompleks, organisasi perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk memperkuat keamanan siber mereka.
Investasi dari dewan direksi dan jajaran eksekutif dalam pendekatan keamanan siber berlapis yang memadukan aspek sumber daya manusia, proses, dan teknologi menjadi faktor krusial. Fortinet Training Institute, yang telah meraih berbagai penghargaan, menyediakan program pelatihan keamanan siber terbesar dan terlengkap di industri. Program ini bertujuan membuka akses ke pelatihan keamanan siber dan peluang karier baru bagi siapa pun, serta menyediakan layanan Security Awareness Training bagi organisasi untuk membangun tenaga kerja yang memiliki kesadaran keamanan siber.
Fortinet berkomitmen untuk melatih 1 juta orang di seluruh dunia di bidang keamanan siber pada tahun ini, melanjutkan komitmen yang telah dimulai sejak tahun 2022. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan akibat kesenjangan talenta keamanan siber dan mempersiapkan organisasi untuk menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.