Hesti.id – 02 Juli 2026 | Di era digital saat ini, serangan siber kripto makin canggih AI jadi senjata baru perkuat keamanan blockchain menjadi isu yang sangat relevan dan perlu perhatian khusus. Ancaman terhadap keamanan dalam industri kripto terus meningkat, dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Pada semester pertama tahun 2026, hampir US$1 miliar nilai aset kripto hilang akibat serangan siber, menunjukkan bahwa pelaku kejahatan digital kini tidak hanya mengandalkan eksploitasi celah teknis, tetapi juga memanfaatkan kelemahan infrastruktur dan faktor manusia.
Data dari DeFiLlama menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2026, tercatat 127 insiden keamanan yang menyebabkan kerugian sekitar US$947 juta. Jumlah ini menjadi peringatan bahwa ekosistem blockchain perlu sistem perlindungan yang lebih adaptif untuk menghadapi pola serangan yang kian berkembang.
Peretasan dalam dunia kripto kini semakin sulit dideteksi. Hal ini terlihat dari dua insiden besar yang terjadi pada April 2026, yaitu peretasan Drift Protocol dan KelpDAO, yang menyebabkan kerugian gabungan mencapai sekitar US$577 juta. Laporan dari TRM Labs menyebutkan kedua kasus ini menyumbang sekitar 76% dari total aset kripto yang dicuri hingga bulan April 2026.
Baca juga:
Metode serangan pun menunjukkan perubahan signifikan. Pelaku kini tidak hanya mengeksploitasi kelemahan dalam kode program, tetapi juga menyerang infrastruktur blockchain dan menggunakan teknik social engineering untuk menipu pengguna. Dalam menghadapi ancaman ini, teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi solusi menarik bagi industri blockchain.
AI menawarkan pendekatan baru dalam keamanan blockchain. Berbeda dengan audit keamanan konvensional yang dilakukan secara berkala, teknologi AI mampu melakukan analisis smart contract dan pemantauan risiko secara real-time. Pendekatan ini memungkinkan deteksi potensi kerentanan lebih awal sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
William Sutanto, CEO INDODAX, menyatakan bahwa perkembangan AI membuka peluang besar bagi industri kripto untuk membangun sistem keamanan yang lebih proaktif. “Serangan yang terjadi kini tidak hanya meningkat dalam jumlah, tetapi juga dalam kompleksitas. Pelaku kejahatan siber semakin terorganisir dan menggunakan berbagai metode yang sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional. Oleh karena itu, sistem keamanan harus mampu beradaptasi lebih cepat, dan AI menjadi salah satu teknologi yang memiliki potensi besar dalam mendukung upaya tersebut,” ujarnya.
Pemanfaatan AI saat ini sudah mulai diterapkan oleh beberapa perusahaan teknologi blockchain. Contohnya adalah Frosty yang dikembangkan oleh Coinbase dan Mythos dari Anthropic. Teknologi ini tidak hanya mempercepat proses audit internal dan analisis smart contract, tetapi juga mampu melakukan analisis on-chain, memantau perubahan perilaku protokol, dan mendeteksi aktivitas transaksi yang mencurigakan secara real-time.
Dengan kemampuan ini, berbagai potensi ancaman dapat diidentifikasi lebih dini, sehingga proses mitigasi dapat dilakukan lebih cepat. Namun, William menekankan bahwa meskipun AI menawarkan banyak manfaat, ia bukanlah solusi tunggal untuk tantangan keamanan di industri aset digital.
“AI berperan sebagai resource multiplier yang mempercepat proses analisis teknis. Namun, keamanan blockchain harus dibangun melalui pendekatan berlapis. Fondasi tersebut meliputi tata kelola yang sesuai regulasi, audit independen, pengelolaan akses yang ketat, penerapan prosedur Know Your Customer (KYC), peningkatan kesadaran keamanan pengguna, dan kesiapan sumber daya manusia dalam mengambil keputusan yang tepat,” jelas William.
Ia menambahkan bahwa ukuran keamanan blockchain di masa depan tidak hanya bergantung pada frekuensi audit, tetapi juga pada kemampuan sistem dalam mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman dengan cepat. “Di sinilah AI akan memainkan peran yang semakin penting sebagai pendukung sistem keamanan yang lebih adaptif,” tambahnya.
INDODAX, sebagai salah satu bursa kripto berlisensi di Indonesia, berkomitmen untuk terus meningkatkan standar keamanan melalui penguatan teknologi, tata kelola, dan edukasi kepada masyarakat. Salah satu langkah yang diambil adalah menjalin kerja sama dengan Chainalysis untuk memperkuat kemampuan pemantauan aktivitas on-chain, manajemen risiko, serta sistem kepatuhan. Melalui kolaborasi ini, INDODAX berharap dapat meningkatkan standar keamanan industri kripto nasional dan memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi seluruh pengguna aset digital di Indonesia.











