Hesti.id – 17 Juni 2026 | Gibran AI Bukan Lagi Masa Depan Indonesia Harus Jadi Pemain Teknologi. Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat dan mulai mengubah berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, industri kreatif, bisnis, hingga dunia kerja, AI kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Menurutnya, Indonesia harus mampu menjadi pemain yang aktif dalam pengembangan teknologi AI. Gibran menegaskan bahwa AI bukan lagi teknologi yang hanya akan digunakan di masa depan, melainkan teknologi yang sudah hadir saat ini.
Indonesia memiliki peluang besar untuk ikut bersaing dalam perkembangan teknologi global. Bangsa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna atau penonton yang menikmati hasil inovasi negara lain. Sebaliknya, Indonesia harus mampu menjadi pemain yang ikut menciptakan solusi dan inovasi berbasis teknologi.
Baca juga:
Salah satu alasan optimisme tersebut adalah semakin banyak teknologi AI yang tersedia secara open source. Berbagai model AI, kode program, hingga perangkat pengembangan dapat diakses oleh siapa saja secara terbuka. Menurut Gibran, kondisi tersebut menjadi kesempatan emas bagi generasi muda Indonesia untuk belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi.
Gibran juga menyoroti manfaat AI dalam dunia pendidikan. Teknologi ini dapat membantu pelajar mencari informasi, memahami materi yang sulit, mempelajari bahasa asing, hingga meningkatkan produktivitas belajar. Namun, ia mengingatkan bahwa AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.
Penggunaan AI harus disertai dengan etika yang baik. AI memiliki potensi disalahgunakan, seperti membuat informasi palsu, melakukan plagiarisme, hingga melanggar privasi pengguna. Karena itu, Gibran menekankan pentingnya etika dalam penggunaan AI. Pemanfaatan teknologi harus dilakukan secara bertanggung jawab agar memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045, penguasaan teknologi dan etika digital harus berjalan beriringan. Dengan jumlah talenta muda yang besar serta akses teknologi yang semakin terbuka, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu kekuatan digital di masa depan.
Kesimpulan, Gibran menegaskan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan teknologi yang sudah hadir saat ini. Karena itu, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton atau pengguna, tetapi harus mampu menjadi pemain dalam perkembangan teknologi global. Dengan memanfaatkan peluang dari teknologi AI yang semakin terbuka, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan daya saing dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045.











