Hesti.id – 12 Juli 2026 | Film horor 402 rumah sakit angker korea berhasil memikat perhatian penonton Indonesia sejak debutnya di layar lebar. Mengusung konsep found‑footage yang meniru rekaman amatir, film ini menampilkan atmosfer menegangkan yang terinspirasi dari film Korea Selatan Gonjiam: Haunted Asylum. Penayangan perdana di Hollywood Cinema Kendari pada pukul 22.00 WIB, 12 Juli 2026, langsung memicu antrean panjang para pecinta genre seram.
Lokasi bioskop Hollywood Cinema terletak di Kompleks Hollywood Square, Jalan Saranani, Kendari, Sulawesi Tenggara. Pada malam penayangan, lima judul film diputar bersamaan, termasuk 402 rumah sakit angker korea, yang ditayangkan di studio reguler dengan harga tiket Rp45 ribu. Film lain seperti Pemikat Jiwa dan Moana juga hadir, namun 402 rumah sakit angker korea menjadi sorotan utama karena tema yang unik dan adaptasi resmi dari film asal Korea.
Adaptasi ini tidak sekadar menyalin cerita, melainkan melibatkan kolaborasi lintas negara. Sutradara asal Indonesia, Anggy Umbara, mendapatkan pujian langsung dari Jung Bum‑shik, sutradara film Gonjiam asli. Jung menyatakan kepuasannya terhadap kualitas teknis film remake, menilai bahwa detail visual dan atmosfer horor berhasil dijaga dengan baik. Pujian tersebut disampaikan dalam konferensi pers di CGV Grand Indonesia pada 6 Juli 2026, menambah kepercayaan publik terhadap proyek lokal.
Baca juga:
Aktor utama Saputra Kori, yang memerankan salah satu remaja penelusur, mengungkapkan rasa bangga atas sambutan positif di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN). Ia menekankan bahwa dukungan Jung Bum‑shik menjadi motivasi tambahan bagi tim produksi untuk menyebarkan cerita horor Indonesia ke panggung internasional. Kori menambahkan, “Kami sangat antusias memperkenalkan 402 rumah sakit angker korea kepada penonton Indonesia, terutama setelah mendapat apresiasi dari sutradara film aslinya.”
Sementara itu, aktris muda Aylena Fusil yang berperan sebagai Tyas, berbagi pengalaman menegangkan saat syuting adegan kesurupan. Ia harus berakting seorang diri di sebuah ruangan gedung tua, tanpa kehadiran pemain lain, menambah rasa otentik pada adegan tersebut. Aylena menjelaskan bahwa diskusi intens bersama sutradara Anggy Umbara diperlukan untuk menciptakan kesurupan yang berbeda dari versi aslinya, sekaligus menyesuaikan diri dengan teknik found‑footage yang menuntut gerakan kamera alami.
Beberapa fakta menarik tentang produksi film ini patut dicatat. Angka 402 dalam judul merujuk pada nomor rumah sakit fiktif yang menjadi latar utama cerita, sebuah tempat yang konon pernah menjadi lokasi eksperimen medis gelap. Lokasi syuting sebenarnya dibangun kembali di studio khusus karena bangunan asli tidak lagi ada. Selain itu, tim produksi harus menyiapkan peralatan pencahayaan yang minim untuk meniru sensasi rekaman amatir, sehingga penonton merasakan seolah‑olah mereka menonton rekaman nyata yang ditemukan belakangan.
Reaksi penonton begitu positif. Dalam seminggu pertama tayang, film mencatat lebih dari 50.000 penonton, dengan pendapatan kotor mencapai Rp2,25 miliar. Banyak yang memuji akting Saputra Kori dan keberanian Aylena Fusil dalam menampilkan adegan-adegan menegangkan. Kritik juga menyoroti bagaimana film berhasil menggabungkan elemen budaya Korea dengan sentuhan lokal, menjadikannya pengalaman horor yang fresh bagi penonton Indonesia.
Kesimpulannya, 402 rumah sakit angker korea bukan sekadar remake biasa. Film ini berhasil mengangkat standar produksi horor Indonesia, memanfaatkan teknik found‑footage, serta mendapatkan pengakuan internasional melalui pujian sutradara asal Korea. Dengan dukungan aktor, kru, dan penonton yang antusias, film ini membuka peluang lebih besar bagi genre horor lokal untuk bersaing di pasar global.











