Hesti.id – 04 Juli 2026 | Jakarta, IDN Times – Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengakui bahwa beberapa peserta Latihan Dasar Militer (latsarmil) dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang ditujukan untuk calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih, lolos seleksi meski memiliki penyakit bawaan. Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menjelaskan bahwa meskipun peserta tersebut dinyatakan masih aman untuk mengikuti pelatihan, beberapa di antaranya akhirnya mengalami masalah kesehatan yang serius.
Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, Donny menyatakan bahwa ada puluhan ribu peserta yang mengikuti program ini. Mereka awalnya disiapkan sebagai komponen cadangan (Komcad) untuk memperkuat TNI. Namun, seiring berjalannya waktu, program latsarmil diubah menjadi pelatihan bela negara tanpa materi militer, dengan fokus pada nilai-nilai nasionalisme, disiplin, dan kepemimpinan.
“Kami sudah sampaikan ke anggota Komisi I DPR untuk merevisi program ini. Yang semula mereka akan menjadi komponen cadangan, kini kami tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan bela negara,” ungkap Donny.
Baca juga:
Dalam pelatihan ini, peserta tidak lagi menerima materi terkait taktik militer atau penggunaan senjata, meski mereka masih mengenakan seragam loreng. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan pelajaran tentang kepemimpinan dan pengelolaan koperasi selama pelatihan berlangsung hingga pertengahan Juli 2026.
Namun, beberapa peserta mengalami kejadian tragis. Tim investigasi yang dibentuk Kemhan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menyelidiki kematian lima peserta latsarmil yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelelahan, perubahan pola hidup yang drastis, dan penyakit bawaan. Donny menjelaskan bahwa dua dari lima peserta meninggal akibat gangguan paru-paru, sementara tiga lainnya karena masalah jantung.
“Kami telusuri bagaimana dahulu medical check-up nya di daerah seperti apa. Apakah ada data-data tambahan yang perlu dievaluasi,” kata Donny. Tindakan pencegahan juga dilakukan untuk menghindari penularan penyakit di antara peserta.
Kemhan juga menyalurkan santunan sebesar Rp 50 juta untuk keluarga peserta yang meninggal. Hal ini menunjukkan kepedulian dari pemerintah terhadap nasib para calon manajer Koperasi Desa yang berpartisipasi dalam program ini.
Sementara itu, Donny menambahkan bahwa perubahan pola hidup setelah masuk ke barak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan peserta. “Yang tadinya mungkin kehidupan sipil, masuk kehidupan di barak dan sebagainya yang mana semuanya harus disiplin,” ungkapnya. Dengan cuaca panas dan perubahan drastis dalam rutinitas harian, kesehatan beberapa peserta pun menurun.
Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan menjaga keselamatan peserta, Kemhan berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan dalam proses seleksi kesehatan di masa mendatang. Program ini diharapkan dapat menghasilkan calon manajer yang tidak hanya terampil dalam pengelolaan koperasi, tetapi juga sehat secara fisik dan mental.











