Hesti.id – 04 Juli 2026 | Industri aset kripto kembali dikejutkan dengan berita mengejutkan: ribuan ATM Bitcoin mati total setelah raksasa kripto Bitcoin Depot resmi bangkrut. Perusahaan yang sebelumnya menjadi salah satu operator mesin ATM Bitcoin terbesar di dunia ini telah menghentikan seluruh operasionalnya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat.
Keputusan ini berakibat pada dinonaktifkannya ribuan mesin ATM Bitcoin yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Kebangkrutan Bitcoin Depot disinyalir dipicu oleh semakin ketatnya regulasi pemerintah, penurunan pendapatan yang signifikan, serta berbagai persoalan hukum yang dihadapi. CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, mengungkapkan bahwa perubahan regulasi menjadi salah satu faktor utama yang menyulitkan operasional bisnis mereka.
Bitcoin Depot resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan di Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Texas. Dengan langkah ini, perusahaan berharap dapat menjual aset-asetnya dan menyelesaikan kewajiban finansial sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebelumnya, Bitcoin Depot mengoperasikan sekitar 9.276 mesin ATM Bitcoin yang memungkinkan pengguna untuk membeli aset kripto secara langsung dengan uang tunai.
Baca juga:
Namun, kondisi keuangan perusahaan mengalami penurunan drastis sepanjang tahun ini. Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, Bitcoin Depot mencatat penurunan pendapatan sebesar 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kerugian bersih yang dialami mencapai sekitar US$9,5 juta, jauh dari laba bersih yang dicatatkan tahun lalu sekitar US$12,2 juta. Laba kotor juga menurun sekitar 85 persen, meninggalkan angka sekitar US$45 juta.
Tekanan regulasi yang semakin ketat menjadi tantangan besar bagi Bitcoin Depot. Banyak negara bagian di Amerika Serikat yang menerapkan aturan yang lebih ketat terhadap operator ATM Bitcoin. Beberapa aturan baru tersebut mencakup pembatasan nominal transaksi, persyaratan kepatuhan yang lebih rumit, larangan operasional di beberapa wilayah, dan pengawasan hukum yang semakin agresif. Menurut Holmes, perubahan regulasi ini membuat model bisnis ATM Bitcoin tidak lagi berkelanjutan.
Tidak hanya tekanan dari regulasi, Bitcoin Depot juga menghadapi masalah hukum. Perusahaan ini digugat oleh Jaksa Agung di negara bagian Massachusetts dan Iowa karena diduga terlibat dalam berbagai kasus penipuan aset kripto yang menggunakan ATM mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, ATM Bitcoin semakin sering digunakan dalam kejahatan penipuan, dengan kerugian global akibat penipuan yang melibatkan ATM kripto dilaporkan mencapai sekitar US$389 juta tahun lalu.
Operasional Bitcoin Depot di Kanada juga terpengaruh dan ikut dalam proses kebangkrutan, sementara operasional di negara lain akan dihentikan secara bertahap sesuai dengan aturan yang berlaku di masing-masing wilayah. Meskipun industri kripto secara keseluruhan menunjukkan pertumbuhan, kebangkrutan Bitcoin Depot mencerminkan tantangan unik yang dihadapi oleh perusahaan yang bergantung pada layanan fisik seperti ATM Bitcoin.
Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi aset digital oleh investor institusi meningkat, didukung oleh produk investasi seperti ETF Bitcoin dan regulasi yang lebih jelas di sejumlah negara. Namun, kasus Bitcoin Depot menyoroti pentingnya bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan regulasi yang semakin ketat dan tantangan biaya kepatuhan yang terus meningkat.
Dengan bangkrutnya Bitcoin Depot, ribuan ATM Bitcoin mati total, dan perusahaan ini menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam industri ATM kripto tahun ini. Hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun industri kripto berkembang, perusahaan tetap harus siap menghadapi berbagai dinamika dan perubahan yang terjadi di pasar.











