2 Juli 2026

Gadi Eisenkot Tantang Netanyahu untuk Akhiri Era Bencana

Penulis

Aloisa Aloisa

Gadi Eisenkot Tantang Netanyahu untuk Akhiri Era Bencana
Gadi Eisenkot Tantang Netanyahu untuk Akhiri Era Bencana

Hesti.id – 02 Juli 2026 | Mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, secara resmi mendeklarasikan diri sebagai calon perdana menteri dan melancarkan serangan politik terhadap Benjamin Netanyahu. Dalam pidatonya, Eisenkot menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai ‘pemerintahan bencana’ yang harus diakhiri pada pemilu mendatang. Pengumuman ini menciptakan gelombang baru dalam peta politik Israel, terutama di tengah kritik yang juga dilontarkan oleh mantan Perdana Menteri Naftali Bennett.

Dalam pidatonya yang disampaikan pada malam tanggal 30 Juni, Eisenkot menegaskan bahwa era pemerintahan yang dipimpin Netanyahu harus berakhir. “Pada Oktober, masa jabatan pemerintahan Oktober yang membawa bencana akan berakhir,” ujarnya dengan tegas. Aspek yang mengkhawatirkan dari pemerintahan saat ini, menurut Eisenkot, adalah ketidakmampuan dalam mengelola isu-isu penting mulai dari keamanan hingga stabilitas politik.

Gadi Eisenkot menekankan komitmennya untuk membentuk pemerintahan baru yang berani mengambil keputusan penting terutama di bidang keamanan nasional, wajib militer, dan pendidikan. Ia juga menjanjikan untuk membentuk komisi penyelidikan guna mengusut kegagalan intelijen Israel dalam mencegah serangan Hamas yang terjadi pada 7 Oktober 2023. “Kita tidak bisa lagi membiarkan kesalahan fatal terulang,” tambahnya.

Menariknya, kritik terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari Eisenkot. Naftali Bennett, mantan Perdana Menteri, juga menyatakan bahwa Netanyahu telah kehilangan kendali atas kabinetnya sendiri. Bennett menilai bahwa pengaruh dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich telah menghambat kemampuan Netanyahu untuk memimpin secara efektif.

Dalam konteks ini, Eisenkot mengusung slogan kampanye “Israel harus menang” yang mencerminkan visi optimisnya untuk masa depan negara. Ia percaya bahwa pemilu mendatang adalah pertaruhan hidup dan mati bagi Israel, yang memerlukan pemimpin yang dapat menyatukan rakyat dan membuat keputusan strategis yang jelas.

Lebih lanjut, Eisenkot menyentuh isu-isu sosial yang relevan dengan mengekspresikan keprihatinannya terhadap kebijakan kontroversial yang diusulkan oleh kabinet Netanyahu, termasuk undang-undang yang memberikan pengecualian wajib militer bagi pria Yahudi ultra-Ortodoks. “Ini adalah kepemimpinan yang tidak mengenal akuntabilitas dan teladan pribadi,” kritiknya tajam.

Dengan semua tekanan yang muncul, baik dari dalam partai maupun dari oposisi, situasi politik Israel semakin mendesak. Eisenkot, sebagai kandidat terkuat dari kubu oposisi, berjanji untuk menyingkirkan rezim yang dinilainya miskin visi dan tak memiliki strategi masa depan yang jelas. Ia menegaskan bahwa saatnya untuk mengubah arah Israel menuju masa depan yang lebih baik.

Related Post

Tinggalkan komentar