
Hesti.id – 14 Juli 2026 | Restoran Ayam Ini Mendadak Dapat Proyek Data Center Rp 900 Miliar Kok Bisa menjadi headline utama setelah CCH Holdings mengumumkan kontrak layanan data center senilai 50 juta dolar AS. Perusahaan yang selama ini dikenal mengelola jaringan restoran ayam di Malaysia tiba-tiba muncul di ranah teknologi dengan nilai kontrak yang melampaui pendapatan tahunan mereka.
CCH Holdings, operator Chicken Claypot House yang berbasis di Penang, menandatangani perjanjian tiga tahun dengan klien yang tidak diungkapkan karena terikat NDA. Nilai kerja sama mencapai sekitar Rp900 miliar, yang akan dijalankan melalui anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki. Meskipun identitas klien dirahasiakan, ruang lingkup pekerjaan mencakup pemeliharaan operasional data center, penyediaan kapasitas komputasi, koordinasi implementasi proyek, konsultasi teknis, dan layanan pendampingan operasional.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi yang dijelaskan oleh CEO Goh Kok E. Menurutnya, perusahaan ingin memperluas bisnis ke sektor infrastruktur digital tanpa meninggalkan usaha restoran yang sudah mapan. Dengan demikian, Restoran Ayam Data Center tidak hanya melayani pelanggan di bidang kuliner, tetapi juga menambah lini pendapatan dari layanan teknologi.
Data keuangan CCH Holdings pada tahun buku 2025 menunjukkan pendapatan sekitar 9,59 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp42 miliar) dan kerugian bersih 2,68 juta ringgit (sekitar Rp11,8 miliar). Kontrak Rp900 miliar ini menjadi lonjakan signifikan, setara lebih dari dua puluh kali pendapatan tahunan perusahaan.
Masuknya CCH Holdings ke industri data center tidak terjadi begitu saja. Malaysia selama beberapa tahun terakhir menjadi magnet investasi data center, terutama di wilayah Johor yang berbatasan dengan Singapura. Beberapa raksasa teknologi global seperti Google, Microsoft, Amazon Web Services, dan ByteDance telah mengumumkan proyek data center di negara tersebut, didorong oleh kebutuhan komputasi AI dan keterbatasan listrik di Singapura.
Fenomena perusahaan non‑teknologi yang masuk ke bisnis data center semakin umum. Pertumbuhan AI, cloud computing, dan layanan digital menciptakan permintaan infrastruktur yang tinggi. Perusahaan yang mampu menyediakan dukungan operasional memiliki peluang memperoleh kontrak bernilai besar, meskipun sebelumnya tidak dikenal sebagai pemain teknologi.
Untuk CCH Holdings, kontrak ini dapat menjadi batu loncatan transformasi menjadi perusahaan hybrid: satu sisi tetap mengelola jaringan restoran ayam, sisi lain mengoperasikan layanan data center. Jika strategi diversifikasi ini berhasil, model bisnis mereka dapat menjadi contoh unik bagi perusahaan kuliner lain yang ingin merambah sektor teknologi.
Secara keseluruhan, kisah Restoran Ayam Ini Mendadak Dapat Proyek Data Center Rp 900 Miliar Kok Bisa menegaskan bahwa peluang bisnis dapat muncul dari sektor yang tak terduga. Dengan dukungan infrastruktur digital yang terus berkembang di Asia Tenggara, perusahaan kecil sekalipun memiliki kesempatan untuk bersaing dalam proyek bernilai ratusan miliar rupiah.