
Hesti.id – 17 Juli 2026 | CEO Rimini Street, Seth Ravin, menekankan pentingnya memahami ekonomi AI sebelum mengalokasikan dana IT secara besar‑besar. Dalam pertemuan dengan media di Jakarta, ia menyoroti bahwa biaya penggunaan model AI, terutama Large Language Models, muncul setiap kali sistem memproses permintaan.
Pernyataan Ravin muncul di tengah antusiasme perusahaan yang ingin mengadopsi AI sebagai bagian utama transformasi digital. Banyak keputusan masih diambil oleh eksekutif non‑TI yang menganggap AI sebagai solusi gratis tanpa konsekuensi finansial.
Ravin menjelaskan bahwa ekonomi AI meliputi tiga komponen utama: biaya infrastruktur (komputasi dan penyimpanan), biaya layanan (bayar per‑permintaan atau berlangganan), dan biaya pemeliharaan model. Berbeda dengan perangkat lunak tradisional yang biasanya memerlukan lisensi satu kali, layanan AI generatif menagih setiap kali menghasilkan respons. Karena itu, organisasi harus menghitung total biaya kepemilikan (TCO) sebelum melakukan investasi.
Rimini Street juga menekankan pentingnya menyiapkan proses bisnis terlebih dahulu. Pendekatan bertahap dimulai dengan penyederhanaan alur kerja, kemudian mengadopsi Robotic Process Automation (RPA) untuk tugas rutin, dan baru setelah fondasi tersebut kuat, mengidentifikasi area yang memang membutuhkan kecerdasan buatan untuk analitik atau pengambilan keputusan.
Dalam konteks otomasi versus AI, Ravin menegaskan bahwa pekerjaan berulang dengan aturan jelas lebih efisien diotomasi secara konvensional. AI sebaiknya dipilih untuk tugas yang memerlukan pemahaman bahasa alami, penalaran, atau analisis data kompleks, karena biaya inferensinya lebih tinggi.
Strategi AI yang disesuaikan dengan kondisi lokal menjadi kunci. Di negara dengan populasi produktif menurun, seperti Jepang, AI dapat menutup kekurangan tenaga kerja. Namun di Indonesia, dengan tenaga kerja melimpah, keputusan antara AI, otomasi, atau tenaga manusia harus mempertimbangkan perbedaan biaya tenaga kerja. Menurut Ravin, biaya layanan AI relatif seragam secara global, sedangkan biaya tenaga kerja sangat bervariasi.
Disiplin dalam mengevaluasi manfaat bisnis menjadi penentu keberhasilan. Perusahaan yang menggabungkan optimalisasi proses, otomasi, dan AI secara selektif cenderung mencapai transformasi digital yang berkelanjutan dan menghasilkan ROI yang terukur.
Rimini Street menutup dengan menegaskan bahwa AI adalah alat yang sangat kuat untuk inovasi, namun nilai maksimalnya hanya tercapai bila diterapkan pada proses yang telah dioptimalkan, didukung tata kelola yang baik, dan diarahkan pada pemecahan masalah bisnis yang nyata.
Dengan pendekatan yang berlandaskan ekonomi AI, perusahaan dapat menghindari jebakan pengeluaran tak terkendali dan memaksimalkan potensi teknologi untuk meningkatkan efisiensi serta daya saing di pasar.