Hesti.id – 30 Juni 2026 | Di tengah kehebohan pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT), Abyan Fadhlan Abrar atau lebih dikenal dengan nama Byan, seorang siswa kelas XII C dari MAN 1 Yogyakarta, berhasil menciptakan cerita inspiratif. Byan Murid MAN 1 Yogyakarta yang Taklukkan UPN dan UGM ini menunjukkan bahwa ketekunan dan keberanian untuk mencoba adalah kunci menuju kesuksesan.
Byan menggambarkan dirinya dengan tiga kata: artistic, sleepyhead, dan idealis. Di balik kesederhanaan tersebut, ia menjalani perjalanan panjang untuk menemukan arah hidup yang sesuai dengan dirinya. Sejak kecil, cita-cita Byan tidak pernah tetap; keinginannya sering berubah. Namun, satu hal yang konsisten: ia ingin melakukan sesuatu yang disukai dan memberikan dampak positif bagi orang lain.
Dari dua bidang yang menarik perhatiannya, yaitu Ilmu Komunikasi dan Hukum, Byan merasakan kedekatan dengan hukum berkat latar belakang keluarganya yang banyak berprofesi di bidang hukum. Sementara ketertarikan pada Ilmu Komunikasi muncul melalui pengalamannya di MAN 1 Yogyakarta, khususnya saat aktif di Mansa Journalist. Di sinilah Byan mulai memahami dunia komunikasi, bukan hanya sebagai teori tetapi juga dalam praktiknya—mengolah informasi dan menyampaikan gagasan.
Setelah berdiskusi dengan keluarganya, Byan memutuskan untuk memilih Ilmu Komunikasi di UPN “Veteran” Yogyakarta sebagai tujuan di SNBT. Namun, proses menuju SNBT tidaklah mudah. Selain harus memahami materi pelajaran, Byan juga harus mempertahankan semangat belajar yang sering kali mengalami pasang surut. Di saat-saat sulit, dukungan dari teman-teman sangat berarti, karena mereka saling menguatkan satu sama lain dalam meraih impian.
Ketika hasil SNBT diumumkan dan Byan dinyatakan diterima di Ilmu Komunikasi UPN Yogyakarta, ia merasa bersyukur. Namun, rasa syukur itu tidak membuatnya berhenti. Ia merasa masih ada peluang yang lebih menantang, meskipun telah mendapatkan tempat yang aman. Dengan keyakinan tersebut, ia memutuskan untuk mengikuti Ujian Mandiri Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan memilih Fakultas Hukum. Pilihan ini didorong oleh harapannya bahwa UGM memiliki lingkungan akademik yang lebih kuat untuk pengembangan dirinya.
Byan berusaha untuk tidak membiarkan tekanan menjadi beban berat selama proses persiapan. Ketika merasa lelah, ia memilih untuk sejenak berhenti dan kemudian kembali berfokus pada tujuannya. Ia juga tidak terlalu memikirkan ekspektasi orang lain, karena ia percaya setiap individu memiliki jalan hidup yang berbeda dan tidak seharusnya dibandingkan.
Lingkungan di MAN 1 Yogyakarta juga memberikan banyak dukungan bagi Byan. Ia merasa sangat terbantu dengan informasi pendidikan dan pilihan studi yang diberikan oleh guru dan teman-temannya. Madrasah ini bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga membentuk cara berpikir dan mentalnya dalam menghadapi seleksi yang kompetitif.
Walaupun Byan belum menentukan arah kariernya secara pasti, ia memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia hukum, baik sebagai pengacara maupun diplomat. Ia berharap ilmu yang diperolehnya di masa depan dapat digunakan untuk membantu masyarakat, terutama mereka yang belum mendapatkan keadilan.
Jika seluruh perjalanan Byan dirangkum, ia menggambarkan pengalaman ini seperti menonton film yang sangat menarik, tetapi tidak ingin mengulangnya. Ada perasaan bangga, lelah, dan campuran emosi yang membuat perjalanan ini tak terlupakan. Bagi Byan, ini bukan hanya tentang dua kampus atau dua jurusan, tetapi tentang keberanian untuk mencoba meskipun telah berada di posisi yang aman.





