Hesti.id – 16 Juni 2026 | Berita menarik dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat! Sebanyak 200 guru Bahasa Sunda jenjang SD dan SMP telah mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dalam Diseminasi Tunas Bahasa Ibu (TBI) Tahun 2026. Kegiatan ini digelar di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Senin (15/6/2026).
Ketua MGMP Bahasa Sunda Kabupaten Ciamis, Idah Paridah, mengatakan kegiatan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari para guru. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan besarnya perhatian para pendidik terhadap upaya pelestarian bahasa dan budaya Sunda melalui dunia pendidikan.
IDah mengungkapkan bahwa antusiasme peserta sangat luar biasa dan hampir seluruh sekolah SMP mengirimkan perwakilannya. Sementara untuk SD belum semuanya bisa mengikuti karena kuota peserta dibatasi sebanyak 200 orang.
Baca juga:
Idah juga mengapresiasi semangat para guru yang mengajar Bahasa Sunda meskipun tidak berasal dari latar belakang pendidikan Bahasa Sunda. Menurutnya, para guru tersebut sangat aktif berdiskusi dan terus berupaya meningkatkan kompetensinya.
Lebih lanjut, ia mengakui tantangan pelestarian Bahasa Sunda saat ini semakin besar karena penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari mulai berkurang di kalangan generasi muda.
Karena itu, peran guru dinilai sangat penting dalam menjaga keberlangsungan Bahasa Sunda melalui proses pembelajaran di sekolah.
Terkait target prestasi, MGMP Bahasa Sunda Kabupaten Ciamis berharap dapat kembali meraih hasil terbaik pada Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Barat yang rencananya akan digelar di Kota Bogor pada akhir November 2026.
Hasil diseminasi ini tidak berhenti pada peserta yang hadir. Para guru yang mengikuti kegiatan di tingkat kabupaten diharapkan dapat menularkan ilmu dan praktik baik yang diperoleh kepada rekan-rekan guru lainnya di tingkat kecamatan maupun sekolah masing-masing.
Materi yang dipelajari dalam kegiatan ini juga sejalan dengan pembelajaran Bahasa Sunda di sekolah, seperti aksara Sunda, ngadongeng, biantara, dan sajak yang menjadi bagian dari cabang lomba FTBI.
Idah juga mengharapkan pada pelaksanaan berikutnya lebih banyak guru, khususnya dari jenjang SD, dapat dilibatkan sehingga manfaat kegiatan dapat dirasakan lebih luas.
Kesimpulan, kegiatan diseminasi ini sangat penting dalam meningkatkan kompetensi guru Bahasa Sunda dan menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Sunda melalui proses pembelajaran di sekolah.





