12 Juli 2026

Mortir Meledak di Bandung Barat, Tiga Warga Tewas

Penulis

Reksya Reksya Khairulanwar

Mortir Meledak di Bandung Barat, Tiga Warga Tewas
Mortir Meledak di Bandung Barat, Tiga Warga Tewas

Hesti.id – 12 Juli 2026 | Mortir meledak di Bandung Barat, tiga orang tewas [titlebase] menjadi sorotan utama sejak Rabu (8/7/2026) ketika tiga warga dari Kampung Ciparang, Desa Cipatat, terjebak dalam ledakan yang dipicu oleh proyektil mortir 81 Komando. Insiden ini menggemparkan warga sekitar dan menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan sisa amunisi militer di wilayah sipil.

Lokasi kejadian berada di perbatasan antara area pemukiman dan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Menurut laporan saksi mata, ledakan terdengar keras, menggetarkan kaca jendela rumah‑rumah sekitar, bahkan terdengar hingga beberapa kilometer. Warga melaporkan bahwa pada saat kejadian, korban sedang membongkar mortir untuk mengambil logamnya, sebuah praktik yang memang sudah lama terjadi di daerah yang dekat dengan zona latihan militer.

Identitas ketiga korban adalah Ade (21 tahun), Suhri (40 tahun), dan Rodiana (40 tahun). Dua di antara mereka langsung meninggal di lokasi, sementara yang ketiga sempat hidup dalam kondisi kritis sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di Puskesmas Rajamandala. Luka‑luka mereka meliputi patah tulang, luka terbuka di paha, hingga amputasi lengan akibat kekuatan ledakan yang luar biasa.

Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, menjelaskan bahwa mortir yang dipungut korban kemudian dibawa ke rumah Ade dan diotak‑atik dengan palu serta pahat. “Kami menemukan sisa mortir yang masih berpotensi meledak, sehingga lokasi segera dipasangi garis polisi dan diamankan oleh tim JIBOM,” ujarnya. Kepala Departemen Teknik Pusdikif, Letkol Inf. Sunarya, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan kepemilikan atau jenis pasti mortir yang meledak, namun menegaskan bahwa memungut mortir dilarang keras.

Saksi mata lain, Mamad, yang berada di depan masjid saat ledakan, mengaku suara ledakan begitu keras sehingga ia sempat mengira itu adalah tembakan latihan. Damet, warga setempat berusia 43 tahun, menuturkan bahwa ia dipanggil tetangganya untuk memeriksa sumber suara. Sesampainya di lokasi, ia menemukan tiga korban tergeletak dengan darah mengalir. “Saya tidak tahu berapa banyak mortir yang mereka bawa, tapi saya lihat ada palu dan pahat di rumah Ade,” kata Damet. Sementara Dadang Suhendar, yang berada tidak jauh dari titik ledakan, menambahkan bahwa getaran cukup kuat hingga kaca jendela rumah‑rumah bergetar, menimbulkan kepanikan massal.

Polisi dan TNI segera melakukan olah TKP, mengamankan sisa amunisi, serta menelusuri asal‑usul mortir tersebut. Tim JIBOM Polda Jawa Barat memasang garis polisi untuk mencegah warga mendekati area yang masih berpotensi berbahaya. Penyidikan juga melibatkan identifikasi apakah mortir tersebut merupakan sisa latihan yang ditinggalkan secara tidak resmi atau barang yang masuk ke pasar gelap.

Insiden ini mengingatkan pada ledakan serupa yang terjadi di Purwakarta pada 12 Juli 2026, di mana sebuah toko material meledak dan menewaskan satu orang serta merusak empat rumah. Kedua peristiwa menunjukkan bahaya serius ketika amunisi militer beredar di lingkungan sipil tanpa pengawasan yang memadai.

Secara keseluruhan, mortir meledak di Bandung Barat, tiga orang tewas [titlebase] menegaskan perlunya koordinasi lebih erat antara pihak militer, kepolisian, dan masyarakat dalam mengelola sisa‑sisa latihan. Edukasi tentang bahaya memungut amunisi serta penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar