Hesti.id – 11 Juli 2026 | Jokowi buka suara soal ritual injak kepala kerbau di Lampung [titlebase] menjadi sorotan utama di media sosial. Pada akhir pekan lalu, Presiden Joko Widodo hadir di Istana Kedatun Keagungan Lampung untuk menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa.” Prosesnya melibatkan prosesi menginjak kepala kerbau, sebuah tradisi yang telah berlangsung lama di masyarakat Lampung. Jokowi membuka suara soal ritual injak kepala kerbau di Lampung [titlebase] dengan tegas menegaskan bahwa acara tersebut tidak memiliki nuansa politik.
Ritual ini, yang dikenal di kalangan penduduk setempat sebagai “Injak Kepala Kerbau,” merupakan bagian integral dari upacara peresmian dan penghormatan terhadap leluhur. Kepala kerbau diangkat sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan ketangguhan, bukan sebagai lambang partai politik. Jokowi menegaskan bahwa ia mengikuti prosesi ini semata-menerima penghormatan budaya, dan ia menolak segala spekulasi yang mengaitkannya dengan kepentingan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) atau partai lain.
Dalam pernyataannya, Jokowi menegaskan, “Saya merasa terhormat menerima penghargaan adat ini. Adalah bentuk penghormatan masyarakat Lampung dan Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Saya tidak ingin semua hal ditarik ke ranah politik.” Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kebudayaan Indonesia agar tetap bersih dari politisasi. Jokowi buka suara soal ritual injak kepala kerbau di Lampung [titlebase] menjadi contoh nyata bagaimana pemimpin negara dapat menegaskan nilai budaya tanpa terjebak dalam persaingan politik.
Baca juga:
Berbagai komentar muncul di media sosial, sebagian mengaitkan prosesi tersebut dengan simbol kepala banteng, yang sering dipakai sebagai lambang PDIP. Jokowi dengan cepat membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa kepala kerbau bukanlah simbol politik, melainkan warisan kearifan lokal. Ia menekankan bahwa setiap tradisi harus dihormati dan dipelihara sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Di sisi lain, kebijakan Jokowi juga menyoroti dinamika politik di tingkat lokal. Sementara Jokowi menolak politisasi ritual, seorang tokoh politik lokal, Bestari Barus, Ketua DPP PSI, menambahkan bahwa prosesi tersebut dapat menjadi momentum positif bagi PSI di Lampung. Begitu pula, narasi tentang komedian Narji yang pindah dari PKS ke PSI menunjukkan perubahan dinamika partai di daerah tersebut. Narji, yang dikenal lewat stand-up comedy, resmi bergabung dengan PSI setelah beberapa kali berkomunikasi dengan DPP PSI Banten. Perpindahan kader ini dianggap sebagai contoh fluiditas politik yang sehat di Indonesia.
Kesimpulannya, Jokowi membuka suara soal ritual injak kepala kerbau di Lampung [titlebase] menegaskan bahwa budaya tidak boleh dipolitisasi. Ia menekankan pentingnya menghormati tradisi dan menjaga kebudayaan agar tetap bersih dari kepentingan politik. Sementara itu, pergerakan politik lokal seperti keikutsertaan Narji di PSI menunjukkan bahwa dinamika partai di Indonesia masih tetap dinamis dan terbuka. Semua ini menunjukkan bahwa pemimpin dan partai politik dapat beroperasi di ruang kebudayaan tanpa menimbulkan konflik politik.





![Blue Stream diserang, akankah Putin dan Erdogan makin dekat? [titlebase]](https://hesti.id/wp-content/uploads/2026/07/blue-stream-diserang-akankah-putin-dan-erdogan-makin-dekat-titlebase-1024x576.webp)





